WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa hantavirus bukan penyakit baru dalam sistem kesehatan Indonesia.
Penyakit tersebut, menurutnya, sudah dikenali dan dipantau sejak beberapa waktu lalu, terutama karena memiliki karakteristik klinis yang mirip dengan sejumlah penyakit infeksi lainnya.
Baca Juga:
Jangan Abaikan, 5 Tanda Stroke Bisa Muncul Sebulan Sebelum Serangan
Dante menjelaskan, secara umum terdapat dua jenis hantavirus yang dikenal di dunia medis, yakni hantavirus renal disease dan hantavirus pulmonary disease.
Kedua jenis ini memiliki perbedaan pada gejala, organ tubuh yang terdampak, hingga tingkat penanganannya.
Menurut Wamenkes, kasus hantavirus yang sempat ditemukan pada kapal pesiar internasional termasuk dalam kategori hantavirus pulmonary disease.
Baca Juga:
Bahaya Mengintai, 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Pernah Diimunisasi
Jenis ini menyerang sistem pernapasan dan hingga kini belum ditemukan di Indonesia.
Sementara itu, jenis hantavirus yang selama ini teridentifikasi di Indonesia adalah hantavirus renal disease.
Penyakit tersebut umumnya menyerang fungsi ginjal dan memiliki gejala yang menyerupai leptospirosis.
“Yang ada di Indonesia adalah hantavirus renal disease," ucap Wamenkes usai kegiatan kunjungan lapangan tematik dan diskusi media ‘Mengejar Anak Zero Dose’ di Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026.
"Kalau itu biasanya gejalanya seperti leptospirosis, pasiennya panas, kemudian kuning. Biasanya mengalami gangguan ginjal, dan kita bisa obati itu dengan mudah,” katanya, menjelaskan.
Dante menerangkan, pasien dengan hantavirus renal disease biasanya mengalami demam tinggi, kondisi kulit menguning, serta gangguan pada organ ginjal.
Meski demikian, ia memastikan penyakit tersebut dapat ditangani melalui pengobatan dan terapi medis sesuai gejala yang muncul pada pasien.
Kementerian Kesehatan, lanjutnya, terus melakukan langkah mitigasi nasional guna mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui edukasi kepada masyarakat, penyebaran informasi terkait gejala penyakit, serta peningkatan kewaspadaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, pemerintah juga terus memantau perkembangan kasus hantavirus secara global untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya varian lain ke Indonesia.
Dante memastikan hingga saat ini belum ada bukti penularan hantavirus dari manusia ke manusia.
"Kita melakukan mitigasi nasional, melakukan edukasi, dan menyebarkan berita-berita dan edukasi, tentang gejala-gejala hantavirus yang renal disease tersebut. Tapi kalau yang pulmonary disease, itu memang belum ada,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sempat menerima informasi dari otoritas kesehatan Inggris mengenai seorang warga negara asing (WNA) yang menjadi kontak erat pasien positif hantavirus di sebuah kapal pesiar internasional.
WNA tersebut diketahui bekerja di Indonesia sehingga pemerintah segera melakukan penelusuran dan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh guna memastikan kondisi yang bersangkutan.
“Tanggal 8 kita identifikasi. Kemudian kita periksa dan kondisinya sekarang baik-baik saja,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 12 Mei 2026.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah membawa WNA tersebut ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Hasil tes sementara menunjukkan bahwa yang bersangkutan negatif hantavirus.
Meski demikian, pemerintah tetap meminta WNA tersebut menjalani isolasi sementara guna memastikan tidak ada gejala yang muncul selama masa inkubasi penyakit berlangsung.
“WNA itu sudah diperiksa menyeluruh di RSPI Sulianti Saroso dan hasil sementara menunjukkan negatif hantavirus. Namun, pemerintah tetap meminta yang bersangkutan menjalani isolasi sementara guna memantau masa inkubasi penyakit tersebut,” kata Menkes.
Budi Gunadi menambahkan, pengalaman Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 menjadi modal penting dalam memperkuat sistem surveilans penyakit menular.
Menurutnya, koordinasi lintas negara dan sistem deteksi dini kini jauh lebih siap dibanding beberapa tahun lalu.
Pemerintah, kata dia, kini mampu mendeteksi potensi ancaman penyakit menular dari luar negeri secara lebih cepat sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum penyebaran meluas di masyarakat.
“Pengalaman pandemi Covid-19 membuat kemampuan surveilans dan kerja sama internasional Indonesia kini jauh lebih siap. Pemerintah kini lebih cepat mendeteksi potensi ancaman penyakit menular dari luar negeri sebelum meluas,” ujarnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]