WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah menegaskan bahwa dengue atau demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi Indonesia hingga saat ini.
Tingginya angka kasus yang masih terjadi setiap tahun menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak.
Baca Juga:
Usai WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes Perketat Pintu Masuk RI
Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni, yang mengingatkan bahwa Indonesia masih termasuk negara dengan beban kasus dengue tertinggi di dunia.
“Indonesia merupakan negara dengan beban dengue tertinggi di kawasan Asia Tenggara dan termasuk yang tertinggi di dunia. Meskipun jumlah kasus menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun, kita tidak boleh lengah,” kata Andi Saguni dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurut Andi, penyebaran dengue dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk, mobilitas penduduk yang tinggi, hingga kesiapan sistem kesehatan nasional dalam melakukan deteksi dan penanganan kasus secara cepat.
Baca Juga:
Jangan Abaikan, 5 Tanda Stroke Bisa Muncul Sebulan Sebelum Serangan
Karena itu, ia menekankan bahwa strategi penanggulangan dengue tidak lagi dapat mengandalkan respons ketika kasus meningkat.
Upaya pengendalian harus dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan yang lebih kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Pendekatan penanggulangannya tidak dapat lagi bersifat reaktif semata. Tetapi harus juga semakin preventif, prediktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.