WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut belanja kesehatan terus meningkat setiap tahunnya. Tak tanggung-tanggung, ia menyebut nilai belanja kesehatan bahkan telah tembus Rp640 triliun.
"Dari Rp 640 triliun yang menariknya apa? Pertumbuhannya dalam 10 tahun terakhir itu antara 9 sampai 11 persen per tahun. Tinggi jadinya," ungkap dia dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema 'Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian', Rabu (24/6/2026).
Baca Juga:
Reshuffle Kabinet Prabowo Disorot Media China
Menurut Budi, pertumbuhan belanja kesehatan itu terjadi karena populasi usia tua semakin bertambah dan semakin banyak orang yang memerlukan layanan kesehatan.
"Ini merupakan salah satu sektor yang pertumbuhannya setiap tahun lebih tinggi dari targetnya Presiden yang 8%. Jadi merupakan sektor yang menariklah kalau kita urus dengan benar," ungkap Budi.
Untuk diketahui, industri kesehatan dibagi tiga jenis yang masing-masing kontribusi untuk pertumbuhan belanja kesehatan cukup tinggi. Ketiganya yakni industri layanan kesehatan, industri alat kesehatan, dan industri obat-obatan atau farmasi.
Baca Juga:
Budi Gunawan Dicopot, PDI-P Tegaskan Tetap di Luar Pemerintahan Prabowo
"Masing-masing industri ini pertumbuhannya beda-beda. Yang kita ada datanya industri farmasi itu sekitar 8% tahun lalu, industri alat kesehatan itu sekitar 12%. Industri layanan saya belum dapat data terakhirnya tahun lalu. Tapi kalau lihat dari sisi spending side-nya, tumbuhnya antara 9% sampai 11%," jelas Budi.
Melihat angka-angka tersebut dia menegaskan bahwa kesehatan menjadi sektor yang menarik dalam 10 tahun terakhir.
Untuk itu, Kementerian Kesehatan terus berupaya membangun ketahanan kesehatan nasional. Upaya ini dilakukan bahkan selepas pandemi Covid-19 pada 2022 lalu.
Dalam membangun ketahanan ini, Kementerian Kesehatan menyusun rencana transformasi. Salah satunya memuat ketahanan kesehatan yang meliputi obat-obatan, vaksin, dan alat kesehatan.
"Di dalamnya ada komponen ketahanan dari sisi obat, vaksin, alkes, dan layanan kesehatan. Supaya kalau ada apa-apa, kita nggak seperti dulu, oh obat-obatnya nggak ada, nggak marah, susah, harus beli dari Cina, vaksinnya nggak ada, mesti impor dari luar," jelas Budi.
[Redaktur: Alpredo Gultom]