"Hipotalamus di otak adalah pengendali utama suhu tubuh. Informasi dari reseptor kulit, otak, dan darah yang menentukan apakah respons penghangatan atau pendinginan harus diaktifkan," kata Micah, dikutip dari Central Michigan University.
"Selama terpapar lingkungan panas, aliran darah akan diarahkan ke kulit untuk membantu menghilangkan panas. Selain itu, keringat mulai keluar, yang merupakan mekanisme pendinginan utama. Yang penting, keringat harus menguap agar efektif dalam mendinginkan tubuh," lanjutnya.
Baca Juga:
Cuaca Panas Mendidih, AC Makin Laku Keras di RI
Kerusakan jaringan terjadi saat suhu tubuh meningkat, yang memicu interaksi kompleks antara peristiwa inflamasi dan koagulopati yang menyerupai sepsis. Saluran pencernaan dianggap sebagai komponen sentral, permeabilitas racun dari usus dapat berpindah ke dalam darah dan memicu peristiwa inflamasi.
Pekerja atau orang yang berolahraga yang mengalami heat stroke sering mengalami kerusakan jaringan otot rangka (misalnya rhabdomyolysis) yang dapat bertepatan dengan kerusakan dan gagal ginjal lebih lanjut.
"Kerusakan multiorgan yang dikombinasikan dengan peristiwa inflamasi pada korban heat stroke telah dikaitkan dengan kelainan pembekuan darah, yang berkisar dari aktivasi faktor pembekuan darah hingga perdarahan yang sering terlihat pada sepsis. Efek sistemik dari serangan panas membuatnya sulit untuk diobati," pungkasnya.
Baca Juga:
Kesaksian Peserta Gelaran Marathon BTN Jaktim 2026 Banyak Tumbang, 1 Pelari Meninggal
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.