WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah tengah memprioritaskan pembangunan dan pemerataan fasilitas medis untuk penanganan penyakit kritis seperti serangan jantung dan stroke.
Program ini ditargetkan menjangkau 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, sehingga masyarakat dapat segera memperoleh pertolongan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit besar.
Baca Juga:
Pemerintah Genjot Digitalisasi Sekolah, 288 Ribu Lebih Satuan Pendidikan Mulai Terima Perangkat
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa ketersediaan sarana kesehatan di tiap daerah sangat penting, mengingat kedua penyakit tersebut membutuhkan respons cepat.
Ia menjelaskan, periode emas atau golden period penanganan stroke adalah sekitar tiga jam, sementara serangan jantung memiliki waktu ideal hingga enam jam.
“Kan tidak mungkin kalau golden period kena serangan jantung di Cirebon harus dibawa ke Bandung,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemerintah Pacu Inovasi Industri Hijau untuk Capai Target Asta Cita Pengelolaan Sampah 2025
Budi menambahkan, saat ini masih banyak daerah yang belum memiliki peralatan medis memadai.
Oleh karena itu, pemerintah menargetkan seluruh rumah sakit daerah dapat dilengkapi dengan CT scan dan cath lab untuk mempercepat diagnosis dan tindakan medis.
Upaya ini diharapkan mampu memangkas waktu tanggap darurat sekaligus meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat secara merata.
“Sesudah 2022 kita deploy fasilitas, sekarang 112 rumah sakit sudah bisa melayani kateterisasi,” kata Budi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pada 2027 semua rumah sakit daerah telah siap menangani pasien jantung dan stroke.
Meski begitu, tantangan terbesar justru terletak pada ketersediaan tenaga medis spesialis.
“Standarnya sudah jalan, sebagian deployment, tapi apakah ada spesialis intervensi yang bisa pasang ring?” ucapnya.
Kementerian Kesehatan berkomitmen memperkuat tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia di bidang kesehatan.
Tujuannya agar layanan medis untuk penyakit kritis bisa diakses masyarakat dengan cepat, tepat, dan merata di seluruh Indonesia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]