WahanaNews.co | Pendahuluan hasil studi National Institutes of Health mengatakan vaksin Covid-19 J&J sebagai booster memiliki respons kekebalan yang lebih kuat dibanidng Pfizer atau moderna.
Namun penelitian ini dikatakan sebagai tantangan terbaru upaya J&J untuk menggunakan produk vaksin mereka sebagai booster di Amerika Serikat.
Baca Juga:
AS Perluas Penggunaan Vaksin Bivalen Covid-19 untuk Anak Balita
Penelitian ini melibatkan lebih dari 450 orang dewasa yang sudah menerima suntikan awal dari Pfizer, Moderna, atau Johnson & Johnson. Ini juga menunjukkan 'mencampur' suntikan penguat dari berbagai jenis vaksin aman pada orang dewasa.
Perlu dipahami vaksin Moderna dan Pfizer dibuat berdasarkan messenger RNA sementara J&J menggunakan teknologi vektor virus.
Penelitian ini disebut datang ketika kelompok penasihat Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS sedang bersiap bertemu dalam pembahasan manfaat suntikan booster untuk vaksin Moderna dan J&J.
Baca Juga:
Kemenkes Pastikan Stok Vaksin Aman
Pejabat FDA pada hari Rabu mengatakan pengajuan peraturan J&J untuk booster yang direncanakan menimbulkan tanda bahaya termasuk ukuran sampel kecil dan data berdasarkan tes yang belum divalidasi.
Pejabat kesehatan AS telah berada di bawah tekanan untuk menawarkan saran tentang dosis booster vaksin J&J dan Moderna Covid-19 setelah Gedung Putih mengumumkan pada Agustus berencana meluncurkan booster mulai bulan lalu untuk sebagian besar orang dewasa.
Sementara studi NIH membandingkan keamanan dan respons imun dari sukarelawan yang dikuatkan dengan jenis suntikan yang sama pada mereka.
"Mencampur dan mencocokkan dosis untuk booster menghasilkan efek samping yang serupa dengan yang terlihat pada inokulasi primer dan tidak menimbulkan masalah keamanan signifikan," menurut studi tersebut.
Studi terhadap tiga vaksin Covid-19 yang saat ini disahkan di Amerika Serikat menunjukkan menggunakan jenis suntikan yang berbeda sebagai booster dan itu tampak menghasilkan respons antibodi yang sebanding atau lebih tinggi daripada menggunakan jenis serupa.
Uji coba berlangsung di 10 kota AS dan menggunakan total sembilan kombinasi suntikan awal dan booster.
"Mencampur dosis booster mungkin menawarkan keuntungan imunologis untuk mengoptimalkan luas dan umur panjang perlindungan yang dicapai dengan vaksin yang tersedia saat ini," tulis para peneliti dalam penelitian tersebut. [rin]