Di sisi lain, BGN juga memperkuat pengawasan terhadap operasional dapur MBG melalui sistem digital. Sudaryono mengakui kualitas layanan sangat bergantung pada kepala SPPG atau kepala dapur yang bertugas memastikan kualitas bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
"Persoalan yang berikutnya adalah bagaimana hasil kualitas kerja ini sangat ditentukan oleh kepala dapur, yang memastikan masakannya bagus, menunya bagus, dibelanjakan dengan kualitas bahan baku yang baik. Kemudian didistribusikan dengan baik dan diterima dengan baik. Bottlenecking ada pada kepala SPPG atau kepala dapur. Maka kami punya prinsip 'trust is good, control is better'. Jadi kita tidak bisa hanya percaya saja, tapi bagaimana memonitor semua kegiatan di dapur itu by system," jelas Sudaryono.
Baca Juga:
Desak Polda Jambi Tahan 12 Tersangka, Zainul Islam Minta MP dan Kades Betung Ikut Dijerat
Ia menjelaskan, sistem tersebut akan memantau seluruh tahapan penyelenggaraan MBG, mulai dari pengolahan bahan baku, proses memasak, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
"Kami sudah membangun sistem IT-nya, bagaimana memastikan dari mulai nyacah kol sampai dengan dimasak, dimasak berapa lama, suhunya berapa, kemudian matang berapa lama, didinginkannya sekian lama, kemudian dibungkus berapa, kemudian di-deliver berapa lama, diterima jam berapa, dimakan jam berapa, selesai makan jam berapa, dibawa omprengnya pulang ke dapur, dicuci bersih selesai jam berapa. Ini ada lock-lock seperti itu, termasuk pembelanjaan bahan baku itu juga," jelasnya.
Sudaryono menambahkan, saat ini sistem digital tersebut telah memiliki tujuh modul yang mencakup proses penyelenggaraan MBG, termasuk data penerima manfaat.
Baca Juga:
261 Pegawai BGN Langgar Disiplin, 833 SPPG Ditangguhkan Operasional
"Ya jadi kita ingin memastikan bahwa semua dapur melaksanakan SOP, dan Service Level Agreement lah kira-kira," pungkas dia.
[Redaktur: Sopian Simanjuntak]