WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Data tersebut dihimpun berdasarkan pemantauan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB dalam periode 23 Januari 2026 hingga 24 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.
Baca Juga:
BNPB Laporkan Rentetan Bencana Alam di Awal 2026, Warga Diminta Tetap Siaga
Dalam laporan tersebut, jenis bencana yang terjadi masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir dan angin kencang, yang dipicu oleh curah hujan tinggi dan kondisi cuaca ekstrem.
Sejumlah peristiwa bencana dengan dampak signifikan berhasil dirangkum BNPB.
Salah satu kejadian banjir terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Banjir melanda Desa Taman Sari, Kecamatan Rumpin, serta Desa Cibunar, Kecamatan Parung Panjang, pada Jumat (23/1/2026).
Baca Juga:
Hujan Deras Picu Longsor dan Kerusakan Rumah di Pandeglang hingga Karanganyar
Peristiwa ini disebabkan jebolnya turap Setu Lampiri yang mengakibatkan luapan air masuk ke permukiman warga.
Tim BPBD Kabupaten Bogor melakukan kajicepat di lokasi terdampak banjir Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Jumat (23/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Bogor].
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 259 jiwa dari 78 Kepala Keluarga (KK) terdampak, dengan total 78 unit rumah warga terendam banjir.
Hingga saat ini, petugas BPBD setempat terus berkoordinasi dengan aparat desa guna melakukan pendataan korban terdampak, penyaluran bantuan logistik, serta upaya perbaikan tanggul yang jebol.
Selain itu, bencana banjir yang disertai tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (23/1/2026).
Kondisi banjir yang melanda pemukiman warga di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada Jumat (23/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Sumbawa].
Peristiwa tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sumbawa dalam durasi cukup lama.
Sebanyak 12 desa dan 5 kelurahan yang tersebar di 8 kecamatan terdampak banjir. Lebih dari 1.587 Kepala Keluarga (KK) dilaporkan mengalami dampak langsung akibat kejadian ini.
BPBD setempat masih terus melakukan pemutakhiran data seiring berlangsungnya pendataan di lapangan.
Sejak banjir terjadi, personel BPBD telah melakukan berbagai langkah penanganan darurat, antara lain evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman, pendirian posko darurat, serta pelaksanaan kaji cepat untuk mengetahui tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.
Beralih ke Provinsi Jawa Timur, banjir juga dilaporkan melanda Kabupaten Situbondo.
Bencana tersebut terjadi setelah hujan lebat dengan durasi panjang mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu (21/1/2026).
Sebanyak enam desa yang tersebar di lima kecamatan terdampak banjir.
Petugas mencatat sedikitnya 2.822 Kepala Keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa tersebut. Untuk mempercepat penanganan darurat dan meningkatkan kewaspadaan,
Gubernur Jawa Timur telah menetapkan status siaga darurat bencana selama 155 hari, terhitung sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.
Prakiraan Cuaca Dua Hari ke Depan
Berdasarkan prakiraan cuaca pada periode 25 hingga 26 Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan angin kencang.
Wilayah yang diperkirakan memiliki potensi hujan lebat signifikan meliputi Bali, Pulau Jawa, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, serta Sumatera Selatan.
Menyikapi rangkaian bencana tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.
Upaya kesiapsiagaan ini dinilai penting dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi basah yang masih berpotensi terjadi.
Masyarakat yang bermukim di wilayah bantaran sungai diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air.
Apabila terjadi hujan berintensitas tinggi dalam waktu lama, warga disarankan melakukan evakuasi mandiri, memahami jalur evakuasi terdekat, serta selalu memperbarui informasi cuaca dan kebencanaan dari sumber resmi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]