WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., secara resmi menyerahkan 252 unit hunian sementara (huntara) kepada masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (15/2/2026).
Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada perwakilan warga penerima manfaat dan turut disaksikan Bupati Aceh Tengah Haili Yoga serta Wakil Bupati Muchsin Hasan.
Baca Juga:
Rangkaian Bencana Landa NTT, Sumut, dan Jabar, BNPB Imbau Siaga Hidrometeorologi
Prosesi penyerahan berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan haru. Bagi warga yang selama berbulan-bulan tinggal di pengungsian maupun hunian darurat, keberadaan huntara ini menjadi titik awal untuk kembali menata kehidupan.
Pemerintah daerah pun menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah pusat dalam mendampingi masyarakat sejak awal bencana terjadi.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., (rompi cokelat) bersama Bupati Aceh Tengah Haili Yoga (rompi biru) hadir di lokasi huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga:
Pemerintah Siapkan Dua Skema Huntap, 914 KK di Bener Meriah Dapat Huntara Terlebih Dahulu
“Alhamdulillah, luar biasa sekali dukungan yang diberikan BNPB sejak awal bencana. Atas arahan Bapak Presiden melalui Kepala BNPB, akhirnya warga kami bisa menempati hunian yang lebih layak sebelum bulan Ramadan,” ujar Haili Yoga dengan mata berkaca-kaca.
Konsistensi BNPB Sejak Masa Darurat
Kunjungan Kepala BNPB ke Aceh Tengah ini merupakan yang keempat sejak akhir November 2025.
Sejak masa tanggap darurat akibat bencana hidrometeorologi hingga meningkatnya aktivitas Gunungapi Burni Telong dengan status Siaga (Level III), Kepala BNPB memilih turun langsung ke lapangan guna memastikan penanganan berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., memberikan sambutan dan arahan dalam agenda penyerahan huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
“Sejak awal bencana kami sudah ada di sini. Ini sudah empat kali saya ke Aceh Tengah, dan dua kali harus tinggal di sini. Termasuk ketika status Gunungapi Burni Telong naik ke Level III, saya tetap berada di Aceh Tengah untuk memastikan seluruh proses berjalan optimal,” ujar Suharyanto.
Memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan, BNPB tidak hanya fokus pada penyediaan hunian sementara.
Dukungan lain juga disalurkan, seperti dana stimulan untuk perbaikan rumah rusak ringan dan sedang, pembangunan huntara, hingga pemberian Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan berat atau rumah hanyut.
Tersebar di Tiga Kampung
Sebanyak 252 unit huntara dibangun dan ditempatkan di tiga kampung, yakni Kampung Serempah, Kampung Bintang Pepara, dan Kampung Burlah.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., (rompi cokelat) menyerahkan huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Hunian tipe komunal ini dirancang layak huni dengan fasilitas dasar yang memadai, termasuk sumur bor untuk kebutuhan air bersih, sistem sanitasi dan pengelolaan limbah, serta jaringan listrik yang dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma oleh para penyintas.
BNPB juga melengkapi unit huntara dengan kebutuhan dasar seperti alas lantai, tikar, karpet, kasur, bantal, guling, hingga selimut agar warga dapat langsung menempatinya dengan nyaman.
Untuk mendukung kelengkapan perabot rumah tangga, bantuan tambahan sebesar Rp3 juta per unit akan diberikan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., (rompi cokelat kiri) menyerahkan huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
“Tidak hanya bangunan, BNPB juga memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Sementara untuk perabotan, akan ada dukungan dari Kementerian Sosial sebesar tiga juta rupiah untuk setiap unit,” jelas Kepala BNPB.
Skema Dana Tunggu Hunian
Bagi warga yang memilih menyewa rumah sementara secara mandiri, BNPB menyiapkan skema Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600 ribu per bulan.
Selama masa sewa, penerima DTH tetap memperoleh dukungan logistik dan bantuan kebutuhan dasar lainnya.
Warga dan anak-anak terdampak bencana hidrometeorologi beraktivitas di huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Kepala BNPB menegaskan prinsip keadilan dalam penyaluran bantuan bagi seluruh warga terdampak tanpa membedakan pilihan hunian.
“Kita semua warga negara Indonesia yang sedang tertimpa musibah. Saya pastikan bantuannya sama, baik yang memilih huntara maupun DTH. BNPB akan terus mengisi kebutuhan yang diperlukan,” tegasnya.
Untuk wilayah Kecamatan Linge yang masih dalam proses pembangunan, BNPB akan menerapkan skema DTH hingga seluruh unit huntara rampung.
Anak-anak terdampak bencana hidrometeorologi beraktivitas di huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Dari total rencana 529 unit di wilayah tersebut, 198 unit telah selesai dan sisanya ditargetkan tuntas pada pertengahan Februari 2026.
Persiapan Hunian Tetap (Huntap)
Huntara ini bersifat sementara hingga pembangunan hunian tetap (huntap) selesai. BNPB memastikan setiap kepala keluarga dengan kategori rumah rusak berat, berada di zona rawan, atau kehilangan tempat tinggal akibat bencana berhak memperoleh huntap.
Anak-anak terdampak bencana hidrometeorologi beraktivitas di huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Agar proses pembangunan dapat segera berjalan, BNPB mendorong Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyampaikan data calon penerima berbasis by name by address (BNBA).
Warga terdampak bencana hidrometeorologi beraktivitas di huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/2/2026).
“Semua kepala keluarga yang rumahnya rusak berat akan mendapatkan huntap per KK, termasuk yang sebelumnya tinggal bersama dalam satu rumah. Sepanjang memenuhi kriteria, akan kami fasilitasi sesuai permohonan pemerintah daerah,” tegas Suharyanto.
Huntara untuk Sekolah
Dalam dialog bersama warga dan relawan, muncul aspirasi mengenai kondisi tenda sekolah darurat yang dinilai tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Menanggapi hal itu, Kepala BNPB langsung menginstruksikan pembangunan huntara khusus sekolah dengan ukuran dan fasilitas sesuai kebutuhan.
Kepala BNPB langsung menginstruksikan pembangunan huntara khusus sekolah dengan ukuran dan fasilitas sesuai kebutuhan.
“Nanti BNPB akan bangun huntara khusus sekolah sesuai kebutuhan ruang kelas. Saya sudah perintahkan jajaran untuk segera memprosesnya. Untuk sarana pendukung lainnya, akan saya koordinasikan langsung dengan Mendikdasmen,” pungkasnya, disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.
Dengan percepatan pembangunan hunian sementara dan rencana hunian tetap yang tengah disiapkan, diharapkan masyarakat Aceh Tengah dapat segera bangkit, menjalani kehidupan yang lebih aman dan layak, serta menatap masa depan dengan optimisme di tengah proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang terus berjalan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]