Sedangkan yang belum jatuh tempo masih sekitar Rp 70 triliun lagi.
Memang, lanjut Dahlan, Garuda punya gaya negosiasi sendiri.
Baca Juga:
Kinerja Anjlok, Kerugian Garuda Indonesia Melonjak 4,5 Kali Lipat
Memang ada juga yang mulai berhasil.
Utang Garuda ke-9 lembaga bisa dijadwal ulang.
Sembilan lembaga itu, antara lain, adalah Pertamina dengan utang bahan bakar sekitar Rp 12 triliun, Angkasa Pura dengan utang untuk biaya landing dan take off sekitar Rp 3 triliun, dan kepada bank-bank milik BUMN sendiri.
Baca Juga:
Moncong Pesawat Garuda Penyok Usai Mendarat di Pekanbaru, Diduga Hantam Benda Asing di Udara
"Yang dengan penyewa pesawat di luar negeri masih sulit. Terutama yang dari Amerika. Jumlah mereka juga banyak: 32 perusahaan. Negosiasinya tentu sulit-pun ketika baru tahap mengatur jadwal negosiasisnya," ungkapnya.
Di Amerika, lanjut Dahlan, penerbangan domestik sudah praktis normal.
Hal itu sama seperti Tiongkok yang sudah memerlukan banyak pesawat lagi.