Menurutnya, hubungan erat Indonesia dan Maroko tidak dapat dipisahkan dari peran para pemimpin besar kedua negara yang telah meletakkan dasar persahabatan sejak puluhan tahun lalu. Jejak sejarah tersebut menjadi bukti bahwa kerja sama kedua negara telah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan terus berkembang hingga saat ini.
“Dan juga kita tahu bahwa Maroko memiliki sejarah panjang dengan Indonesia, kan Presiden Sukarno di tahun 1960 pernah ke sana dan juga Raja Mohammed V pernah ke sini tahun 60,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Baca Juga:
Komisi VIII DPR Dorong BPKH Lebih Independen demi Optimalisasi Dana Haji Jemaah
Dalam pertemuan tersebut, DPR RI menerima kunjungan delegasi diplomatik Maroko yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia H.E. Mr. Redouane Houssaini bersama Deputy Chief of Mission Mr. Mohamed Sidati.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif dengan membahas sejumlah peluang kerja sama yang dapat ditingkatkan antara kedua negara.
Salah satu poin penting yang menjadi kesepakatan bersama adalah menghidupkan kembali peran Kelompok Kerja Sama Bilateral (GKSB) antarparlemen Indonesia dan Maroko.
Baca Juga:
Keselamatan Wisata Edukasi Jadi Perhatian, Danang Minta Operator Patuhi Standar Transportasi
Melalui forum tersebut, kedua pihak diharapkan dapat memperkuat komunikasi, memperluas jaringan kerja sama, serta mengawal berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ke depan, Indonesia dan Maroko berkomitmen untuk mempererat kolaborasi di berbagai bidang strategis, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Program beasiswa yang ditawarkan Maroko juga diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat hubungan kedua negara sekaligus menciptakan peluang yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kompetensi di tingkat internasional.