Penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, maraknya hoaks, serta menguatnya politik identitas di ruang digital menjadi ujian bagi implementasi sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia.
Selain itu, Firman juga menyoroti pentingnya keteladanan dari para pemimpin dan tokoh publik.
Baca Juga:
Peringati Hari Lahir Pancasila, Pemko Binjai Teguhkan Komitmen Kebangsaan
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, harus terlebih dahulu diwujudkan melalui perilaku para pejabat negara, elite pemerintahan, dan tokoh masyarakat sebelum disampaikan kepada masyarakat luas.
“Kami tidak minta Pancasila dihafal. Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan. Dari warung, sawah, pabrik, sampai kantor pemerintah. Kalau negara hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan hidup dengan sendirinya,” tegas Firman.
Sebagai anggota MPR RI yang aktif melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR RI hingga ke berbagai pelosok desa, Firman menekankan bahwa pembudayaan nilai-nilai Pancasila harus dimulai sejak usia dini.
Baca Juga:
54 Paskibraka Sumedang 2025 Jalani Tugas Terakhir pada Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Siap Menjadi Duta Pancasila
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan semangat kebangsaan kepada generasi muda.
Untuk itu, ia mengusulkan agar pembacaan teks Pancasila dilakukan secara rutin di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Kegiatan tersebut, menurutnya, dapat dipadukan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penguatan rasa cinta tanah air.