WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menindaklanjuti peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Provinsi Daerah Khusus Jakarta dan Jawa Barat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah, khususnya untuk mengurangi potensi banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi.
Baca Juga:
BNPB Imbau Kewaspadaan, Potensi Banjir Masih Mengintai Sejumlah Wilayah
Pelaksanaan OMC dilakukan secara terpadu melalui kerja sama lintas sektor yang melibatkan BMKG, BPBD DKI Jakarta, BPBD Jawa Barat, serta TNI Angkatan Udara.
Operasi ini merupakan tindak lanjut atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto guna mereduksi intensitas curah hujan yang diperkirakan meningkat pada dasarian kedua dan ketiga Januari 2026 di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Operasi modifikasi cuaca di wilayah Jakarta dan Jawa Barat telah dimulai sejak 12 Januari 2026 dengan mengerahkan dua unit pesawat, masing-masing Cessna Caravan PK-JVH milik BNPB dan CASA 212 A-2105 milik BPBD DKI Jakarta.
Baca Juga:
Dikejar Hujan Ekstrem, BPBD dan BNPB Intensifkan Modifikasi Cuaca di Jawa Barat
Kedua pesawat tersebut beroperasi dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian curah hujan, sejak 23 Januari 2026 BNPB memperkuat dukungan armada udara dengan menambah tiga unit pesawat Caravan, yakni PK-YNA, PK-SNG, dan PK-SNK.
Hadapi Cuaca Ekstrem Januari 2026, BNPB Kerahkan Lima Pesawat Modifikasi Cuaca.
Khusus pesawat PK-SNK, operasi dilaksanakan dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung, guna menjangkau dan mengendalikan wilayah hulu yang berpengaruh terhadap aliran air ke kawasan hilir.
Dengan penambahan tersebut, total armada udara yang dikerahkan saat ini mencapai lima unit pesawat untuk mengamankan wilayah udara Jakarta dan Jawa Barat.
Operasi ini juga bersifat fleksibel dan dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten apabila potensi cuaca ekstrem mengalami peningkatan.
Hingga Jumat (23/1/2026), total penerbangan yang telah dilaksanakan oleh lima armada pesawat tersebut mencapai 70 sorti.
Dalam operasi ini, telah disemai sebanyak 43,8 ton Natrium Klorida (NaCl) dan 20,6 ton Kalsium Oksida (CaO) sebagai bahan utama modifikasi cuaca.
OMC di Sumatra dan Jawa Tengah
Selain di Jakarta dan Jawa Barat, hingga Sabtu (24/1/2026) BNPB juga masih melaksanakan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah lain, yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa Tengah.
Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah yang terdampak banjir dan longsor akibat intensitas hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Di wilayah Sumatra, BNPB menyiagakan masing-masing satu unit pesawat di setiap provinsi dengan basis operasi di Lanud Sultan Iskandar Muda (Aceh), Bandara Kualanamu (Medan), dan Bandara Internasional Minangkabau (Padang).
Sementara itu, untuk penanganan darurat di Jawa Tengah, dua unit pesawat Caravan dioperasikan dari Lanud Ahmad Yani, Semarang.
Hadapi Cuaca Ekstrem Januari 2026, BNPB Kerahkan Lima Pesawat Modifikasi Cuaca.
Operasi modifikasi cuaca di wilayah Sumatra dan Jawa Tengah difokuskan pada upaya pengeringan daerah terdampak banjir dan longsor.
Tujuannya adalah untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana, termasuk perbaikan tanggul, pembersihan lingkungan, serta pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Peringatan Dini Cuaca Dasarian Kedua dan Ketiga Januari 2026
Berdasarkan rilis BMKG, pada dasarian ketiga Januari 2026 hujan diperkirakan akan turun secara cukup merata di berbagai wilayah Indonesia.
Sejumlah daerah diprediksi mengalami hujan dengan kategori menengah, yakni antara 50 hingga 150 milimeter per dasarian.
Wilayah tersebut meliputi Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Sementara itu, hujan dengan kategori tinggi, yakni 150 hingga 300 milimeter per dasarian, diperkirakan terjadi di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Adapun wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan kategori sangat tinggi, lebih dari 300 milimeter per dasarian, antara lain Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan.
Menanggapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk senantiasa memantau prakiraan cuaca harian serta peringatan dini cuaca ekstrem melalui sumber informasi resmi dan terpercaya.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyimpan barang berharga di tempat aman, menyiapkan tas siaga bencana, serta menetapkan titik evakuasi keluarga.
Selain itu, warga yang bermukim di sekitar lereng atau tebing dengan risiko longsor diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi lingkungan dinilai tidak aman.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]