WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali disorot publik setelah banjir besar melanda wilayah penyangganya pada awal Januari 2026 dan memunculkan pertanyaan serius soal ketahanan lingkungan kawasan calon pusat pemerintahan tersebut.
Peristiwa banjir yang disebut terparah dalam 26 tahun terakhir itu merendam Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan terjadi pada Kamis (8/1/2026).
Baca Juga:
Rp 6 Triliun Digelontorkan ke IKN, Basuki Pasang Peringatan Keras ke Pejabatnya
Meski tidak masuk ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), banjir berdampak langsung pada permukiman warga dan infrastruktur pendukung IKN.
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menjelaskan banjir dipicu kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.
"Banjir ini melanda wilayah IKN secara umum, bukan di KIPP, dengan penyebab utama curah hujan tinggi dan air pasang," ujar Alimuddin pada wartawan, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga:
Tahap Kritis IKN Dimulai, 28 Paket Proyek Siap Ubah Nusantara Tahun Ini
Hujan dengan intensitas tinggi tercatat mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu (7/1/2026) pukul 17.00 WITA hingga Kamis (8/1/2026) pukul 06.00 WITA sehingga debit sungai meningkat drastis.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan lebat di Kalimantan Timur meski pada Kamis (8/1/2026) suhu udara berada di kisaran 23–30 derajat Celsius tanpa peringatan hujan ekstrem.
Hujan deras yang turun sejak Rabu di wilayah IKN, termasuk kawasan KIPP dan daerah penyangga, memperkuat indikasi meningkatnya risiko banjir.