Fenomena air pasang laut atau rob turut merendam jalan nasional Margasari–Rantau dan memperburuk kondisi wilayah pesisir sekitar IKN.
Di sisi lain, aktivitas pembangunan di kawasan IKN diduga mempercepat erosi dan penyempitan sungai akibat pemanfaatan lahan di wilayah hulu.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: Hibah Rp39 Miliar dari AS Bukti Kepercayaan Global pada Visi IKN
Wilayah Sepaku sendiri dikenal sebagai kawasan rawan banjir, dengan peristiwa di Mentawir kali ini merendam tiga RT dan tercatat sebagai yang terbesar dalam 26 tahun terakhir.
Perubahan iklim global yang memicu curah hujan ekstrem, ditambah percepatan pembangunan tanpa mitigasi menyeluruh, dinilai meningkatkan kerentanan kawasan terhadap bencana hidrometeorologi.
Menanggapi situasi tersebut, Otorita IKN menyatakan telah melakukan langkah-langkah penanganan darurat dan jangka menengah.
Baca Juga:
Tinjau IKN, Rini Widyantini Pastikan ASN Siap Tinggal Nyaman dan Bekerja Efisien
"Kami punya proyek pengendali banjir, termasuk penyelesaian infrastruktur seperti bendungan dan drainase untuk mengendalikan debit air," ungkap Alimuddin.
Selain pembangunan infrastruktur, Otorita IKN juga melakukan normalisasi dan revitalisasi sungai melalui pembersihan dan pelebaran alur untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
Upaya lain yang dilakukan adalah edukasi kepada masyarakat terkait pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, serta peningkatan kesadaran akan dampak aktivitas manusia terhadap risiko banjir.