WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang serta meningkatnya tuntutan terhadap penggunaan energi bersih dan berkelanjutan, penguatan kerja sama internasional menjadi langkah strategis yang tidak dapat diabaikan.
Kolaborasi antarnegara dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi, memperkuat rantai pasok sumber daya strategis, serta mempercepat proses transisi menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga:
Dukung Kemandirian Energi Nasional, ALPERKLINAS Apresiasi Menteri BPN Siapkan Lahan untuk Bangun PLTS 100 GW Program Prabowo
Dalam konteks tersebut, mineral kritis dan teknologi energi maju kini semakin dipandang sebagai komponen penting dalam mendukung pengembangan energi masa depan sekaligus mencapai target emisi nol bersih (net zero emission).
Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya mineral strategis berupaya memanfaatkan potensi tersebut melalui kerja sama dengan berbagai negara mitra, termasuk Jepang.
Sejumlah kesepakatan kerja sama yang tercapai dalam rangkaian Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dorong Peran Swasta Optimalkan Energi Bersih Listrik Demi Kualitas Lingkungan
Forum tersebut menjadi ajang penting bagi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik untuk membangun kemitraan strategis di sektor energi, baik dalam pengembangan teknologi maupun pengamanan pasokan energi.
Salah satu kerja sama yang menjadi sorotan adalah kolaborasi antara Indonesia dan Jepang yang bertujuan memperkuat rantai pasok energi sekaligus mendorong pengembangan teknologi energi masa depan di kawasan Asia-Pasifik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa.
Pertemuan tersebut berlangsung di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat mempererat kemitraan strategis melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) pada dua sektor utama yang dinilai sangat strategis, yakni pengembangan mineral kritis dan kerja sama di bidang energi nuklir.
Kesepakatan ini diharapkan mampu memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, serta berkelanjutan di masa mendatang.
"Saya sangat menyambut baik tentang memorandum yang kita hari ini tandatangani, khususnya di bidang mineral kritis, kami sangat terbuka, kami dengan senang hati untuk meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia," ungkap Bahlil di sela pertemuan bilateral.
Kerja sama di sektor mineral kritis akan difokuskan pada penguatan rantai pasok global agar lebih aman, stabil, dan andal.
Kolaborasi ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi energi bersih, terutama melalui pemanfaatan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia seperti nikel, bauksit, timah, tembaga, hingga logam tanah jarang.
"Kita tahu bahwa Indonesia mempunyai cadangan 43% dari total nikel dunia, dan juga kita menjadi pemain bauksit salah satu terbesar, timah, dan juga punya tembaga. Saya persilahkan, ada logam tanah jarang, jadi kalau mampu kita bisa implementasikan, saya pikir itu adalah hal yang baik," tutur Bahlil.
Di sisi lain, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) Ryosei Akazawa menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama antarnegara dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Menurutnya, stabilitas pasokan energi dan keberlanjutan sistem energi menjadi tantangan yang memerlukan kolaborasi lintas negara.
Menurutnya, situasi geopolitik dan ketidakpastian global saat ini menuntut setiap negara untuk saling memperkuat kolaborasi, termasuk melalui pengamanan cadangan energi strategis.
"Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi," ujar Akazawa.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas dukungannya terhadap izin ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang.
Selain itu, Jepang juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia, termasuk percepatan penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka yang menjadi bagian dari kemitraan strategis kedua negara.
Selain sektor mineral kritis, kerja sama di bidang energi nuklir juga menjadi perhatian penting dalam pertemuan tersebut.
Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan teknologi serta pemanfaatan energi nuklir secara aman dengan tetap mengedepankan standar keselamatan yang tinggi.
Melalui kerja sama ini, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan solusi energi rendah karbon, yang diharapkan dapat mendukung upaya dekarbonisasi serta mempercepat transisi energi nasional.
Ke depan, Indonesia dan Jepang akan melanjutkan pembahasan terkait berbagai peluang kerja sama lain untuk memperkuat ketahanan energi kawasan.
Hal ini mencakup penguatan rantai pasok LNG dan batu bara, serta percepatan sejumlah proyek transisi energi yang berada di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), seperti operasional PLTP Sarulla dan penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.
Melalui kerja sama strategis ini, kedua negara diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi regional sekaligus mendorong percepatan upaya dekarbonisasi di kawasan Indo-Pasifik.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]