WahanaNews.co, Jakarta - Ketua Umum Parsadaaan Toga Sihite Sedunia (PTSBS), Arnod Sihite, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai menggunakan anggaran sangat besar di tengah tantangan ekonomi nasional dan global saat ini.
Menurut Arnod, berbagai masukan dari publik perlu menjadi perhatian serius pemerintah, terlebih setelah Kepala dan Wakil Kepala MBG ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menilai kondisi tersebut semakin memperkuat dorongan masyarakat agar program tersebut dievaluasi dan anggarannya dialihkan ke sektor yang lebih produktif serta berdampak langsung kepada rakyat.
Baca Juga:
PTSBS Rayakan Satu Tahun Perjalanan: Bersatu Dalam Pelayanan, Membangun Generasi Muda Sihite untuk NKRI
“Bapak Presiden yang kami hormati dan kami banggakan, banyak masukan dari publik agar MBG dievaluasi total. Anggaran yang sangat besar sebaiknya direlokasi kepada program yang lebih produktif seperti kesehatan gratis, pendidikan gratis, serta pembangunan infrastruktur yang mampu menyerap banyak tenaga kerja,” ujar Arnod Sihite dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Arnod meyakini, langkah tersebut akan memperkuat simpati masyarakat kepada pemerintah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, kebijakan yang fokus pada kesejahteraan rakyat dan penciptaan lapangan kerja akan memberikan sinyal positif bagi investor untuk tetap menanamkan modal di Indonesia.
“Kami yakin apabila itu dilakukan, ekonomi nasional akan segera tumbuh dan investor tetap memilih Indonesia sebagai tujuan investasi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan itu harus menjadi kekuatan utama bangsa,” katanya.
Baca Juga:
Hadiri ’Brainstorming’ Bertajuk “Menjaga dan Menghidupi Warisan Batak”, Ini Kata Wakil Bupati Taput
Ia juga menekankan bahwa pajak tidak boleh menjadi satu-satunya harapan pendapatan negara. Pemerintah, kata dia, perlu mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam nasional melalui putra-putri terbaik bangsa yang memiliki kemampuan dan integritas.
“Seperti yang sering disampaikan Bapak Presiden, kita harus menyelamatkan kekayaan negara kita dan dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa. Banyak ahli yang mampu melakukan itu sehingga Indonesia bisa keluar dari situasi berat saat ini,” lanjutnya.
Arnod turut menyoroti dampak situasi global terhadap perekonomian nasional, khususnya tingginya ketergantungan impor. Ia meminta pemerintah membuka pasar baru yang lebih stabil dan tidak terdampak konflik internasional.
“Situasi global masih sangat mempengaruhi ekonomi kita, terutama impor. Karena itu pemerintah harus mencari pangsa pasar baru yang tidak berada dalam situasi perang atau konflik,” tegasnya.
Selain itu, Arnod mengajak pemerintah merangkul seluruh elemen bangsa, mulai dari tokoh nasional, mahasiswa, tokoh masyarakat, ekonom, tokoh buruh hingga gerakan sosial untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju dan berkeadilan.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terluar, dan terpencil, serta penguatan program perlindungan sosial ketenagakerjaan melalui perluasan peserta PBI Jamsosnaker yang kini jumlahnya sangat besar hingga mencapai 20 juta anggota yang rentan dan miskin.
“Pembangunan harus dirasakan merata, termasuk sekolah-sekolah di wilayah terpinggirkan. Program perlindungan sosial harus diperkuat agar masyarakat kecil mendapatkan kepastian dan perlindungan,” tutup Arnod Sihite.
[Redaktur: Amanda Zubehor]