WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah mulai kembali mendorong kebiasaan siswa menulis dengan tangan di atas kertas sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah.
Langkah ini dilakukan dengan tetap memadukan metode pembelajaran konvensional tersebut dengan pemanfaatan teknologi pendidikan modern di ruang kelas.
Baca Juga:
Nadiem Makarim Bantah Tuduhan Persekongkolan dan Penyalahgunaan Wewenang dalam Kasus Chromebook
"Kegiatan menulis itu kami aktifkan lagi sekarang. Jadi misalnya murid bisa nonton pembelajaran dengan IFP yang ada, nonton film atau pembelajaran dalam bentuk video dan tayangan lain, tapi mereka nanti membuat resume itu dengan tulisan tangan," ujarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa metode pembelajaran tersebut bertujuan menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan aktivitas belajar yang melatih kemampuan dasar siswa.
"Kami juga dorong untuk penugasannya membaca buku, tidak mengerjakan soal," lanjut dia.
Baca Juga:
ASN Pangandaran Bongkar Pengadaan Chromebook Tak Efektif karena Keterbatasan Sinyal
Menurutnya, kebiasaan menulis menggunakan tangan dinilai memiliki manfaat penting bagi perkembangan siswa karena melibatkan kerja motorik tangan sekaligus merangsang aktivitas otak.
Ia menyebut kegiatan tersebut membantu siswa dalam menyusun gagasan dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan secara lebih terstruktur.
"Sekarang mulai kami kembalikan ke arah yang seperti itu, sehingga kami kombinasikan antara penggunaan teknologi pembelajaran yang modern dengan sistem pembelajaran dalam tanda petik ya tradisional," ujarnya.
Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan arahan Presiden yang sebelumnya meminta agar pelajaran menulis kembali diperkuat di sekolah-sekolah.
"Saya minta ditinjau kembali, Mendikdasmen. Saya kira perlu kembali ada pelajaran menulis, menulis dengan baik, menulis halus, dan menulis, tapi sebetulnya tulisannya harus besar," kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
Presiden juga menyoroti kebiasaan sebagian siswa menulis dengan huruf sangat kecil yang menurutnya perlu diperbaiki dalam proses pendidikan.
"Yang besar-besar tulisannya. Anak-anak harus dididik nulis besar, saya khawatir kalau dia nulisnya sangat kecil, ujungnya dia harus pakai kacamata semua," ucap dia.
Selain menghidupkan kembali pelajaran menulis tangan, pemerintah juga berencana memperluas akses buku bagi para pelajar di berbagai daerah.
Pasalnya, dalam sejumlah kunjungan kerja, Presiden menemukan masih banyak siswa yang berusaha menghemat penggunaan kertas karena keterbatasan biaya.
Karena kondisi tersebut, tulisan siswa sering kali dibuat sangat kecil agar lebih hemat ruang pada kertas yang digunakan.
Presiden pun meminta dukungan dari Kementerian Keuangan agar pengadaan buku dapat diperbanyak dan didistribusikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]