Ia juga menyoroti penanganan titik-titik TPS rawan seperti Kobana dan Ciwastra sebagai ujian kepemimpinan di level eksekusi.
Menurutnya, penanganan TPS tidak cukup dengan penertiban sesaat, melainkan perlu integrasi antara pengangkutan, pemilahan, dan pengolahan di tingkat kewilayahan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Masa Depan Danau Toba Berkelanjutan
“TPS rawan itu cermin kegagalan sistem. Kalau hanya dipadamkan sementara, krisis akan berulang,” tegasnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengungkapkan bahwa pemanfaatan biodigester dan insinerator harus mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Ia mengingatkan risiko lingkungan jika standar teknologi dan pengawasan diabaikan.
Baca Juga:
InJourney Airports Permak Bandara Soekarno-Hatta, MARTABAT Prabowo–Gibran Sebut Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur Kota Global Buat Semua Kalangan
“Insinerator bisa jadi solusi, tapi juga bisa jadi sumber masalah baru jika emisi dan residunya tidak dikelola dengan benar. Prinsipnya jelas: lingkungan dan kesehatan publik tidak boleh dikorbankan,” kata Tohom yang juga dikenal konsisten mengawal isu transisi energi dan keberlanjutan.
Lebih jauh, Tohom mendorong keterlibatan warga sebagai kunci keberhasilan. Program petugas pemilah di tingkat RW dinilainya tepat, namun harus diperkuat dengan edukasi berkelanjutan dan insentif yang adil.
“Sampah itu urusan bersama. Negara hadir lewat kebijakan dan fasilitas, rakyat hadir lewat disiplin dan partisipasi. Kalau ini bertemu, krisis bisa diubah jadi peluang,” ujarnya.