Ia juga menyoroti dampak positif lainnya seperti berkurangnya kebutuhan lahan tempat pembuangan akhir (TPA) dan menurunnya risiko penyakit akibat pencemaran sampah.
Menurutnya, hal tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi tidak langsung bagi pemerintah daerah.
Baca Juga:
Wabup Toba Sampaikan Hasil Workshop Pengolahan Sampah di Jepang
“Ketika sampah dikelola dengan teknologi modern, kita bisa mengurangi penggunaan lahan hingga ratusan hektare yang biasanya dipakai sebagai TPA. Lahan tersebut bisa dialihkan untuk kepentingan produktif seperti ruang terbuka hijau, kawasan ekonomi, atau fasilitas publik,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa proyek Waste to Energy harus dipandang sebagai bagian dari transformasi energi nasional menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dan berbasis ekonomi sirkular.
Menurutnya, model pengolahan sampah menjadi listrik akan memperkuat ekosistem energi bersih sekaligus membantu pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari timbunan sampah, khususnya gas metana yang selama ini menjadi salah satu penyumbang pemanasan global.
Baca Juga:
TPA Cipeucang Ditutup, Tangsel Rogoh Rp90 Juta per Hari untuk Buang Sampah ke Cileungsi
“Transformasi energi tidak hanya soal membangun pembangkit baru, tetapi juga bagaimana kita mengelola sumber daya yang ada secara lebih cerdas. Sampah adalah tantangan, tetapi jika dikelola dengan teknologi yang tepat, ia justru menjadi sumber energi dan nilai ekonomi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Badan Pengelola Investasi Danantara yang telah menetapkan pemenang tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di beberapa kota, termasuk Bekasi dan Denpasar, karena dinilai mempercepat implementasi proyek strategis tersebut.
Tohom berharap ke depan semakin banyak pemerintah daerah yang terlibat aktif dalam pengembangan PLTSa sehingga persoalan sampah nasional dapat ditangani secara sistematis sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi.