WAHANANEWS.CO, Jakarta - Respons pemerintah dalam menghadapi kritik publik kembali menuai sorotan setelah Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto menilai humas dan perwakilan pemerintah kerap bertindak emosional saat merespons pertunjukan stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang sarat kritik kebijakan, Jumat (23/1/2026).
Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional RI itu menyebut pola reaksi emosional bukan hal baru dalam komunikasi krisis pemerintah, bahkan menurutnya sudah berulang kali terjadi dalam berbagai kasus serupa.
Baca Juga:
KPK Geledah Rumah Dinas hingga Kantor Bupati Pati, Sita Uang Ratusan Juta
“Saya berkali-kali ngeritik betapa PR, public relation pemerintah kalau handle situasi kritis itu sangat emosional,” kata Noe dalam kanal YouTube Sabrang MDP Official, Jumat (23/1/2026).
Ia mencontohkan cara pemerintah merespons kritik Pandji Pragiwaksono sebagai gambaran nyata kegagalan menjaga jarak profesional antara institusi negara dan kritik publik.
“Contohnya handle sopo sih, Pandji, itu mbalesnya kok emosional sih,” ujar Noe.
Baca Juga:
Influencer Lula Lahfah Tutup Usia, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Menurut Noe, kritik seharusnya tidak ditanggapi secara defensif, melainkan dikelola dengan pendekatan yang sistematis dan terukur agar tidak memicu polemik lanjutan di ruang publik.
Ia menilai pemerintah membutuhkan kerangka kerja atau framework yang jelas dalam merespons kritik, mulai dari pengakuan atas masalah hingga komitmen perbaikan yang dapat dipantau publik.
“Pertanyaannya, kira-kira pejabat mana yang berani dan mau menggunakan framework ini,” ucap Noe.
Noe menjelaskan bahwa selama ini tuntutan agar pejabat bersikap ideal sering disampaikan tanpa disertai standar yang konkret, sehingga publik kesulitan menilai kualitas respons pemerintah secara objektif.
Ia mengungkapkan, keputusan menerima posisi sebagai Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional RI merupakan bagian dari eksperimen pribadi untuk mendorong lahirnya standar baru dalam interaksi pejabat dengan masyarakat.
“Ya peran kampret memang, harus kayak gini,” kata Noe.
Namun ia menegaskan bahwa gagasan perubahan tidak bisa hanya disuarakan dari luar tanpa kesediaan terlibat langsung dan menanggung risikonya.
“Tidak bisa kita ngomongin ide kita dan suruh orang lain yang ambil risikonya,” ujar Noe.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]