WAHANANEWS.CO, Jakarta - Memasuki hari ke-60 pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada 25 November 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait terus memusatkan perhatian pada tahap pemulihan.
Fokus utama diarahkan pada percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak serta normalisasi Sungai Batang Toru.
Baca Juga:
Banjir Rendam DKI Jakarta, Lebih dari 1.600 Warga Mengungsi di Puluhan Titik
Berdasarkan data BNPB, jumlah penerima huntara di Kabupaten Tapanuli Selatan mencapai 816 Kepala Keluarga (KK).
Pembangunan huntara di Desa Simatohir, Kecamatan Padangsidempuan, Sumatra Utara bagi warga terdampak banjir bandang.
Dari total tersebut, sebanyak 683 KK menempati huntara terpusat, sementara 133 KK lainnya mendapatkan bantuan huntara mandiri yang dibangun di atas lahan milik warga.
Baca Juga:
Akhir Januari 2026, Banjir dan Longsor Masih Dominasi Laporan Bencana
Pembangunan huntara terpusat di Tapanuli Selatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan BNPB.
Secara rinci, Danantara mengerjakan pembangunan 186 unit huntara yang berlokasi di Desa Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan.
Sementara itu, Kementerian PU membangun 245 unit huntara di Desa Napa, Kecamatan Batang Toru.
BNPB turut mengerjakan dua lokasi huntara terpusat lainnya, yakni 118 unit di Desa Aek Lantong, Kecamatan Sipirok, serta 134 unit di Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkkunur.
Pekerja melaksanakan pembangunan huntara di Desa Simatohir, Kecamatan Padangsidempuan, Sumatra Utara bagi warga terdampak banjir bandang.
Adapun pembangunan huntara mandiri sepenuhnya dilaksanakan oleh BNPB.
Pemerintah menargetkan seluruh pembangunan huntara dapat diselesaikan sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Target ini ditetapkan agar masyarakat terdampak bencana dapat menjalankan ibadah puasa dalam kondisi hunian yang lebih layak, aman, dan nyaman.
Selain pembangunan huntara, proses pembangunan hunian tetap (huntap) di Kabupaten Tapanuli Selatan juga dilaksanakan secara paralel.
Pembangunan huntap ini dikerjakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dengan konsep terpusat di kawasan PTPN, Desa Hapesong.
Hingga saat ini, progres pembangunan telah mencapai sekitar 30 persen dari total 227 unit rumah yang ditargetkan.
Progres pembangunan huntaa telah mencapai sekitar 30 persen dari total 227 unit rumah yang ditargetkan.
Diharapkan seluruh pembangunan huntap tersebut dapat rampung pada akhir Maret mendatang sehingga warga dapat segera menempati hunian permanen.
Normalisasi Sungai Batang Toru
Upaya normalisasi Sungai Batang Toru menjadi perhatian serius BNPB bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari langkah mitigasi bencana.
Pada peristiwa banjir bandang akhir November lalu, debit air sungai meningkat drastis hingga meluap dan merendam permukiman serta area persawahan warga.
Pascabencana, kondisi sungai mengalami pendangkalan signifikan akibat penumpukan material pasir, bebatuan, hingga batang kayu.
Alat berat dikerahkan untuk melaksanakan kegiatan normalisasi aliran Sungai Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan pada Jumat (23/1/2026).
Pekerjaan normalisasi sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten Tapanuli Selatan ini telah dimulai sejak 8 Januari 2026 oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatra Utara.
Hingga Sabtu (24/1/2026), proses pengerjaan masih terus berlangsung di sejumlah titik.
Sebanyak enam unit alat berat dikerahkan untuk mengeruk material sedimentasi di badan sungai sekaligus membangun tanggul darurat di sepanjang wilayah Desa Hapesong guna mengurangi risiko luapan air.
Normalisasi Sungai Batang Toru dinilai sangat penting sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Alat berat dikerahkan untuk melaksanakan kegiatan normalisasi aliran Sungai Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan pada Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan prakiraan, musim hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi hingga Maret.
Oleh karena itu, upaya ini diharapkan mampu meminimalkan risiko banjir susulan dan melindungi keselamatan masyarakat di wilayah sekitar sungai.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]