WAHANANEWS.CO, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak menganggap remeh peringatan mengenai potensi menguatnya fenomena El Nino pada tahun 2026.
Menurutnya, tanda-tanda yang muncul saat ini harus menjadi perhatian serius karena berpotensi memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga ketahanan pangan nasional.
Baca Juga:
Kapan Puncak Musim Kemarau di RI? Ini Prediksi BMKG
Peringatan tersebut disampaikan Daniel Johan sebagai respons atas kajian yang diungkapkan Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa fenomena El Nino berpotensi berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026.
Jika kondisi itu terjadi, Indonesia berisiko menghadapi musim kering yang lebih panjang, penurunan curah hujan, hingga ancaman krisis air di sejumlah wilayah.
Baca Juga:
Bantah Isu El Nino Ekstrem, BMKG Sebut Kondisi Iklim Masih Netral
“Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air,” jelas Daniel Johan dikutip dari situs resmi DPR RI, Rabu (10/06/2026).
Ia menilai pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dan masyarakat.
Daniel mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi dampak El Nino yang sangat berat pada periode 1997–1998.
Saat itu, kekeringan berkepanjangan menyebabkan banyak lahan pertanian mengalami kekurangan air yang berujung pada gagal panen dan kerugian besar bagi petani.
“Kita tidak ingin kejadian seperti yang lampau terulang tanpa persiapan yang memadai,” imbuh politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Karena itu, Daniel menekankan pentingnya langkah mitigasi yang terukur dan dilakukan sejak sekarang.
Salah satu langkah yang menurutnya perlu segera direalisasikan adalah penyediaan sumur bor di kawasan pertanian yang selama ini rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Percepatan pembangunan embung di tingkat desa dengan dukungan sumur dalam, dan penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG,” tutur Daniel Johan.
Selain memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, Daniel juga mengingatkan adanya ancaman lain yang sering muncul saat musim kering berkepanjangan, yakni peningkatan serangan hama tanaman.
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan strategi antisipasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga meski menghadapi kondisi iklim ekstrem.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan sistem pengelolaan air nasional yang terintegrasi dan berbasis pada siklus iklim.
Sistem tersebut dinilai mampu membantu pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air, terutama saat menghadapi periode El Nino.
“Air hujan dengan menyiapkan embung sehingga saat terjadi el nino dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir kekeringan,” tegas dia.
Lebih lanjut, Daniel mendesak agar pembangunan infrastruktur penyimpanan air dilakukan secara lebih masif dan terhubung dengan data iklim yang akurat.
Menurutnya, kemajuan teknologi saat ini harus dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air secara lebih efisien dan tepat sasaran.
“Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, (tetapi) yang dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering,” jelas Daniel Johan.
Daniel menambahkan bahwa upaya menghadapi ancaman El Nino tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Diperlukan koordinasi yang kuat antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya agar langkah mitigasi berjalan efektif dan dampaknya dapat diminimalkan.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan menjamin stabilitas pasokan pangan nasional di tengah potensi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
“Sehingga tidak berdampak signifikan terhadap petani dan pangan nasional,” tandasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]