WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman kabut asap lintas negara di kawasan Asia Tenggara diperkirakan meningkat sepanjang tahun ini.
Fenomena Super El Nino disebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan lebih luas akibat cuaca yang semakin kering dan panas.
Baca Juga:
BMKG Ungkap Penyebab Jabodetabek Diguyur Hujan Malam-Pagi Hari
Laporan terbaru dari Singapore Institute of International Affairs (SIIA) menunjukkan risiko kabut asap kini berada pada level tertinggi atau high. Status tersebut naik dari penilaian sebelumnya dan menjadi pertama kalinya sejak 2023 lembaga itu kembali menetapkan tingkat kewaspadaan paling tinggi.
SIIA menilai dampak super El Nino dapat memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Kondisi ini membuat lahan, terutama kawasan gambut dan perkebunan, lebih mudah terbakar sehingga meningkatkan peluang munculnya asap lintas batas.
Indonesia termasuk dalam empat negara yang diperkirakan paling berisiko terdampak bersama Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Letak geografis serta pola angin musiman dinilai berperan dalam penyebaran asap apabila terjadi kebakaran dalam skala besar.
Baca Juga:
Atasi Kepadatan Lapas dan Rutan, Kriminolog UI: Perlu Alternatif Pidana
Menurut laporan tersebut, periode yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Agustus hingga September 2026. Pada rentang waktu itu, musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan juga meningkat.
Apabila titik-titik api tidak segera dikendalikan, asap tebal berpotensi menyebar ke negara-negara tetangga dan memicu penurunan kualitas udara secara signifikan.
SIIA juga menyoroti pengalaman sejumlah wilayah di Asia Tenggara yang beberapa waktu terakhir menghadapi polusi udara ekstrem. Salah satunya adalah Chiang Mai, Thailand, yang sempat diselimuti kabut asap dengan kualitas udara pada level berbahaya, April 2026.