WAHANANEWS.CO, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menyoroti serius persoalan ribuan mahasiswa kedokteran yang terancam mengalami drop out (DO) akibat tidak berhasil lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKOM).
Menurutnya, persoalan tersebut harus segera mendapat perhatian pemerintah karena menyangkut masa depan calon tenaga medis di Indonesia.
Baca Juga:
SMP Ar Rafi’ BHS Sumedang Gelar Screw Students Creativity Show & Expo 2026
Irma menilai langkah Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam menangani mahasiswa yang belum lulus UKOM sejauh ini belum menunjukkan pendekatan yang solutif.
Ia bahkan menyebut penanganan yang dilakukan terkesan tidak produktif dan kurang mempertimbangkan kondisi psikologis mahasiswa maupun keluarganya.
“Saya melihat cara Dikti menangani masalah anak-anak yang tidak lulus UKOM sangat tidak produktif dan semena-mena. Jika hal ini tidak mendapatkan solusi, keluarga dan mahasiswa kedokteran yang sudah belajar selama empat tahun bisa stres. Bahkan dikhawatirkan ada yang nekat bunuh diri lagi,” ujar Irma dalam keterangannya kepada Parlementaria, di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:
Country Road Milangkala Cisarua ke-25 Bersama Sumedang Walker, Sekda Sumedang Hadiri Perayaan di Lapang Cisalak
Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut meminta pemerintah, terutama Dikti, perguruan tinggi, dan Kementerian Kesehatan, untuk duduk bersama mencari jalan keluar terbaik agar mahasiswa kedokteran yang belum lulus UKOM tetap memiliki kesempatan melanjutkan proses pendidikan dan pengabdian mereka.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa kedokteran telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan yang tidak mudah, sehingga negara perlu hadir memberikan solusi yang lebih manusiawi dan konstruktif.
Sebagai langkah pertama, Irma mengusulkan agar pemerintah membuat program khusus atau crash program bagi mahasiswa yang belum berhasil lulus UKOM.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi wadah pembinaan tambahan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa sebelum kembali mengikuti ujian.
Selain itu, Irma juga mengusulkan agar mahasiswa yang belum lulus UKOM diberikan pendampingan langsung di lapangan melalui penempatan sementara di fasilitas layanan kesehatan, seperti puskesmas, sesuai daerah asal masing-masing.
Melalui cara tersebut, pemerintah dapat mengevaluasi secara langsung kekurangan kompetensi setiap mahasiswa.
“Misalnya yang berasal dari Papua ditempatkan di puskesmas sambil dilihat kembali apa kelemahan mereka,” katanya.
Tidak hanya fokus pada mahasiswa, Irma juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fakultas kedokteran yang memiliki tingkat kelulusan UKOM rendah.
Menurutnya, kualitas institusi pendidikan harus menjadi perhatian utama agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Ia bahkan menilai fakultas kedokteran yang tingkat kelulusan UKOM-nya berada di bawah 30 persen perlu dipertimbangkan untuk ditutup demi menjaga mutu pendidikan dokter di Indonesia.
“Pilihan terakhir, mau tidak mau, tutup fakultas kedokteran yang kelulusan UKOM-nya di bawah 30 persen,” tegasnya.
Irma menambahkan, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan kedokteran menjadi penting agar perjuangan mahasiswa selama menjalani pendidikan tidak berakhir sia-sia hanya karena gagal dalam ujian kompetensi yang berlangsung dalam waktu singkat.
“Solusi ini perlu dilakukan agar anak-anak yang sudah kuliah selama empat tahun tidak sia-sia belajar dan untuk menghindari dropout hanya karena gagal uji kompetensi dua jam,” pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]