WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman cuaca ekstrem kembali menghantui Indonesia setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi kemunculan Siklon Tropis Narelle yang terus menguat di perairan selatan Tanah Air.
Fenomena ini berkembang cepat dari bibit siklon tropis menjadi sistem badai besar dengan peningkatan intensitas signifikan dalam waktu relatif singkat.
Baca Juga:
DPR Nyalakan Mode Hemat, Layanan Dewan Dijamin Tetap Optimal
Siklon Tropis Narelle merupakan sistem badai yang terbentuk di atas perairan hangat dan berpotensi memicu gangguan cuaca luas meski pusatnya tidak melintasi daratan Indonesia.
Dampak tidak langsung tetap terasa dalam bentuk hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.
Secara ilmiah, siklon tropis terbentuk akibat perbedaan tekanan udara yang signifikan di wilayah laut hangat yang memicu terbentuknya pusat tekanan rendah disertai angin berputar dan awan hujan intens.
Baca Juga:
Penyidikan Kian Dalam, KPK Bidik Pengusaha Rokok dalam Kasus Bea Cukai
Proses pembentukan diawali dari gangguan atmosfer berupa bibit siklon yang kemudian berkembang ketika didukung suhu permukaan laut yang hangat serta kondisi atmosfer yang kondusif.
Siklon Tropis Narelle sendiri berasal dari Bibit Siklon Tropis 96P yang mulai terdeteksi aktif pada pertengahan Maret 2026 dan terus mengalami penguatan.
Perputaran angin dalam sistem ini dipengaruhi oleh efek rotasi bumi atau efek Coriolis yang memperkuat struktur badai hingga mencapai kategori siklon tropis.
Berdasarkan pemantauan Tropi, belum lama ini.
Pada puncaknya, Siklon Tropis Narelle mencapai kategori 4 yang termasuk dalam klasifikasi badai sangat kuat.
Kecepatan angin maksimum tercatat sekitar 95 knot atau setara 175 kilometer per jam dengan tekanan udara di pusat badai sekitar 946 hPa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa badai tersebut memiliki potensi destruktif yang tinggi meskipun tidak langsung melintasi wilayah Indonesia.
Secara posisi, Siklon Tropis Narelle terpantau berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Bali dengan jarak sekitar 1.290 hingga 1.910 kilometer dari Denpasar.
Pergerakannya mengarah ke selatan hingga barat daya dengan kecepatan sekitar 10 hingga 11 knot atau setara 19 hingga 21 kilometer per jam.
Seiring menjauhnya dari wilayah Indonesia dan keluar dari area pemantauan TCWC Jakarta, intensitas badai diperkirakan akan menurun menjadi kategori 3.
Sebelum melemah, sistem ini juga berdampak signifikan di wilayah Australia dengan memicu hujan lebat dan banjir di Queensland, Northern Territory, hingga Australia Barat.
Meski tidak melintasi daratan Indonesia, dampak tidak langsung tetap terasa akibat tarikan massa udara yang memengaruhi sistem cuaca regional.
Peningkatan curah hujan terjadi di berbagai wilayah disertai potensi angin kencang terutama di daerah pesisir dan laut terbuka.
Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor serta mengganggu aktivitas transportasi dan perikanan.
Wilayah yang diprediksi mengalami hujan sedang hingga lebat meliputi Banten, Daerah Khusus Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.
Fenomena ini juga berpotensi memicu pembentukan awan hujan tebal di sepanjang Pulau Jawa akibat tarikan massa udara dari sistem badai.
Selain itu, peningkatan gelombang laut menjadi ancaman serius bagi aktivitas di perairan.
Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter diprediksi terjadi di perairan selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur serta Samudra Hindia selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Wilayah lain seperti Laut Sawu dan bagian barat Laut Arafuru juga mengalami peningkatan gelombang dengan potensi gelombang lebih tinggi di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebagai langkah antisipasi.
Aktivitas di laut disarankan untuk disesuaikan dengan kondisi gelombang, terutama bagi nelayan dan operator transportasi laut.
Di wilayah daratan, kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor perlu ditingkatkan dengan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]