Ia mengungkapkan bahwa dorongan untuk tampil maksimal datang dari motivasi unik yang diberikan sang pelatih.
“Awalnya pelatih tidak ingin saya ikut turnamen ini setelah US Open yang berat, tapi saya ingin membuktikan diri. Mungkin dia sengaja bilang begitu agar saya bisa tampil bagus di sini,” ujar Gauff dikutip dari BBC.
Baca Juga:
Momen Langka di Old Trafford, Si Kembar Fletcher Masuk Skuad Utama MU
Pertandingan final berjalan dramatis, terutama pada set kedua ketika Pegula sempat unggul 3-0.
Namun Gauff berhasil bangkit dan merebut empat gim beruntun, sebelum akhirnya menutup pertandingan dengan forehand winner yang menjadi penentu kemenangan.
“Kamu ratu tiga set, jadi saya bertekad tidak memberi kesempatan kali ini. Saya rasa peluangmu akan lebih besar jika memainkan set ketiga,” kata Gauff sambil memuji penampilan Pegula di sela seremoni kemenangan.
Baca Juga:
Ronaldo Umumkan Piala Dunia 2026 sebagai Turnamen Terakhir: “Saatnya Berhenti di Ajang Besar”
Pegula sendiri tampil luar biasa sepanjang turnamen. Ia selalu melakoni delapan pertandingan tiga set sebelum mencapai final, sebuah catatan ketangguhan tersendiri.
Namun, di laga puncak kali ini, Gauff tampil lebih efisien dan menuntaskan seluruh pertandingannya dengan dua set langsung.
“Suatu kehormatan bisa bermain melawan teman sendiri dan rekan senegara di final. Ini final pertama kami, dan saya menikmati setiap momennya,” ujar Pegula.