“Dan isu mental health, bayangkan 84-85 persen klien klinik psikologi di kalangan perkotaan adalah pemuda. Artinya kalau psikolog ketemu 10 pasien, 8 diantaranya pemuda. Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” ujar Menpora Erick yang gusar akan kondisi ini.
Menurutnya, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah semakin melemahnya ketangguhan ideologi di kalangan pemuda.
Baca Juga:
Erick Thohir Lantik Sesmenpora dan Deputi Baru, Dorong Kemenpora Naik Kelas dan Perkuat Industri Olahraga
Erick menilai kondisi tersebut dapat memicu menurunnya rasa persatuan, meningkatnya tindakan kekerasan, serta berkurangnya semangat juang generasi muda dalam membangun bangsa.
“Isu-isu ini sudah menjadi ancaman, berikutnya adalah lemahnya ketangguhan ideologi. Kita sudah tidak ada ideologi sekarang. Ini terus menggerus, bahkan kalau Bapak Ibu lihat di daerah, yang namanya melakukan aksi kekerasan atau kekejaman di jalanan malah menjadi tren yang meningkat supaya diakui di komunitasnya. Isu kepemudaan ini yang berimplikasi terhadap merosotnya daya juang,” jelas Menpora Erick.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah menyiapkan sejumlah program strategis.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Blak-blakan Resah Timnas Indonesia Belum Lolos Piala Dunia: Jangan Anggap Enteng Sepak Bola
Salah satunya adalah Indonesia Youth Summit yang akan menjadi forum kolaborasi antara pemuda, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah kebijakan kepemudaan yang lebih terintegrasi.
Menpora menjelaskan bahwa penyelenggaraan Indonesia Youth Summit juga bertujuan memperkuat sinergi lintas kementerian dan lembaga.
Mengingat terdapat sedikitnya tujuh kementerian yang memiliki keterkaitan langsung dengan urusan kepemudaan, diperlukan konsolidasi agar program-program yang dijalankan mampu saling melengkapi dan memberikan dampak nyata bagi generasi muda.