“Ada tujuh kementrian yang terkait dengan kepemudaan, ini yang menjadi concern bagaimana konsolidasi akan dilakukan antar kementrian dan lembaga. Kita sudah akan mengundang kementrian terkait untuk hadir di Indonesia Youth Summit, untuk berkonsolidasi, seperti yang sudah kami lakukan sebelumnya dalam Indonesia Sport Summit sehingga lahir aturan-aturan baru dengan kementrian lain,” tambahnya.
Selain Indonesia Youth Summit, Kemenpora juga akan menggelar Wirasena Youth Camp sebagai program pengembangan kepemimpinan bagi perwakilan pemuda dari 38 provinsi.
Baca Juga:
Erick Thohir Lantik Sesmenpora dan Deputi Baru, Dorong Kemenpora Naik Kelas dan Perkuat Industri Olahraga
Program tersebut disusun berdasarkan kurikulum yang dirancang para pakar dengan fokus pada pembentukan karakter, kepemimpinan, serta peningkatan kapasitas generasi muda agar mampu menghadapi tantangan global.
Dalam pelaksanaannya, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan seperti debat, pidato, diskusi, hingga pertukaran gagasan dengan melibatkan kerja sama internasional sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan dan melakukan benchmarking terhadap praktik terbaik di berbagai negara.
“Berikutnya kita juga mengadakan youth camp. Kegiatan seperti ini ada di negara-negara lain seperti Amerika dan Singapura. Agenda ini digelar supaya kita bisa mengonsolidasi pemuda-pemuda terbaik yg ada di negeri ini. Kenapa aada lomba debat, kenapa ada lomba pidato, kenapa kita bekerja sama dengan sembilan negara termasuk Amerika, Cina, Arab Saudi supaya kita benchmarking. Saya nawaitunya sama dgn Bapak Ibu, setiap program harus ada outputnya,” tutup Menpora Erick.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Blak-blakan Resah Timnas Indonesia Belum Lolos Piala Dunia: Jangan Anggap Enteng Sepak Bola
Rencananya, Wirasena Youth Camp akan mulai digelar pada Oktober mendatang.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda strategis Kemenpora dalam menyambut peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]