WAHANANEWS.CO, Jakarta - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) memastikan tidak akan mengajukan diri sebagai tuan rumah penyelenggaraan World Climbing Series 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai dinamika global serta sensitivitas internasional yang muncul pascapolemik pada ajang kejuaraan dunia senam artistik 2025 yang digelar di Jakarta.
Baca Juga:
Pemko Binjai Gelar Apel Akbar Hari Santri Nasional Tahun 2025 Tingkat Provinsi Sumatera Utara
Sekretaris Umum FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, menegaskan bahwa absennya Indonesia sebagai tuan rumah tidak akan memengaruhi performa atlet nasional maupun peluang mereka dalam mengumpulkan poin kualifikasi di tingkat internasional.
“Beberapa pertimbangan diambil dalam keputusan ini, termasuk situasi ekonomi di awal 2025 yang belum jelas sebagai bentuk kebijakan efisiensi,” ujarnya saat berdialog bersama Pro3 RRI, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, FPTI sempat melakukan kajian dan perhitungan terkait kemungkinan mengikuti proses bidding.
Baca Juga:
Ajang Paragliding Internasional Digelar di Sumedang, 120 Pilot Siap Unjuk Kebolehan
Namun, dinamika yang terjadi pada kejuaraan dunia senam, termasuk penolakan keikutsertaan atlet-atlet Israel yang berujung pada sanksi internasional, menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan secara matang oleh pengurus.
Dengan mempertimbangkan agenda besar pada 2026, pengurus pusat FPTI akhirnya memutuskan untuk memfokuskan sumber daya pada persiapan prestasi.
Tahun tersebut menjadi fase krusial karena terdapat target Asian Games yang menjadi pijakan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
“Bentuk komunikasi dengan IFSC terkait keputusan ini telah berjalan intens dan semua pihak saling memahami,” katanya.
Meski tidak menjadi tuan rumah pada 2026, FPTI tetap membuka peluang untuk kembali mengajukan diri di tahun berikutnya.
Secara kebijakan, tidak ada kendala dari federasi internasional, dan dinamika dalam proses bidding World Cup dipandang sebagai hal yang lazim dalam kalender olahraga global.
“Tim Indonesia, terutama untuk nomor lead dan speed. Akan tetap ambil bagian di semua seri yang diagendakan pada 2026,” ujar Pristiawan.
Terkait polemik kejuaraan dunia senam 2025, Buntoro menyampaikan bahwa International Federation of Sport Climbing (IFSC) menyerahkan sepenuhnya kebijakan politik kepada negara penyelenggara, sebagaimana pernah diterapkan pada penyelenggaraan sebelumnya di Bali.
Dana yang semula dialokasikan untuk kebutuhan bidding dan hosting fee akan dialihkan guna memperkuat program pembinaan atlet, salah satunya dengan memperbanyak training camp di luar negeri.
“Resource akan didorong bersama Kemenpora untuk memperkuat persiapan menjelang Asian Games dan target utama di Olimpiade LA 2028,” ucap Pristiawan.
Ia menambahkan, FPTI telah menyusun rencana strategis jangka menengah, termasuk membangun kekuatan nomor lead melalui pengiriman atlet ke Eropa untuk mengikuti training camp bersamaan dengan dimulainya seri World Cup di kawasan tersebut.
Para atlet nomor lead dijadwalkan menetap lebih lama di Eropa untuk terus berkompetisi dan meningkatkan jam terbang.
Sementara itu, tim nomor speed tetap akan hadir di setiap seri guna menjaga konsistensi performa.
Pristiawan meyakini ketiadaan World Cup di Indonesia tidak akan berdampak signifikan terhadap eksposur sponsor dalam negeri.
“Kompetisi nasional dan seri nasional tetap berjalan dengan partisipasi atlet-atlet dunia, sehingga partnership dengan sponsor tidak ada persoalan,” katanya lagi.
Di sisi lain, ia menilai proses regenerasi atlet berjalan dengan baik melalui penyelenggaraan kejuaraan nasional kelompok umur yang rutin digelar setiap tahun serta kompetisi usia dini.
FPTI juga menargetkan keikutsertaan atlet muda Indonesia pada ajang ASEAN Youth Championship yang akan berlangsung di Tiongkok.
Antusiasme masyarakat terhadap olahraga panjat tebing terus menunjukkan tren positif sejak Asian Games 2018, dan mencapai puncaknya saat Olimpiade Paris.
Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan klub-klub panjat tebing di berbagai daerah secara masif.
Pada Rapat Kerja Nasional Desember 2025, FPTI memperkuat komitmen bersama seluruh pengurus daerah untuk memaksimalkan momentum prestasi Olimpiade Paris.
Saat ini, pemerataan kekuatan atlet nasional juga mulai terlihat, termasuk perkembangan signifikan dari kawasan timur Indonesia.
“Kekuatan mulai muncul dari Sulawesi Tengah, dan FPTI baru saja melantik pengurus di Maluku Utara yang sebelumnya vakum,” ucapnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]