WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang kekerasan terhadap wasit kembali mencoreng kompetisi sepakbola nasional sepanjang musim 2025–2026, memicu keprihatinan serius dari Komite Wasit PSSI yang menilai keselamatan pengadil lapangan kini berada dalam ancaman nyata.
Sepanjang bergulirnya kompetisi Super League dan Championship musim ini, sejumlah insiden intimidasi hingga kekerasan terhadap wasit terjadi akibat ketidakpuasan sebagian pihak terhadap keputusan yang diambil di lapangan.
Baca Juga:
Old Star Tanjung Enim Bukit Asam Juara U-42 Kapolres Cup Pagar Alam 2025
Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa mengecam keras berbagai tindakan kekerasan yang menyasar pengadil pertandingan dan menegaskan bahwa keselamatan wasit merupakan prioritas utama dalam dunia sepakbola.
"Wasit juga manusia yang tak lepas dari kesalahan," tegas Ogawa dalam workshop perwasitan bersama media di GBK Arena, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, meskipun berada di bawah tanggung jawab federasi, para wasit tetap manusia yang bisa melakukan kesalahan sebagaimana profesi lainnya.
Baca Juga:
Wakil Bupati Paluta Resmi menutup turnamen sepak bola Elang Sakti.
"Kita perlu melindungi sepakbola di Indonesia, artinya wasit selalu di bawah PSSI, kami yang menunjuk, dan terkadang, sayangnya, mereka membuat masalah atau kesalahan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keselamatan menjadi prinsip paling mendasar yang harus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam olahraga sepakbola.
"Tapi di dunia, ini juga tidak hanya di Indonesia, namun poin penting pertama adalah keselamatan, tidak hanya sepakbola, bidang lainnya juga, keselamatan adalah masalah terpenting dalam hidup kita," kata Ogawa.
Ia menegaskan bahwa tanpa jaminan keamanan, federasi akan kesulitan menunjuk wasit untuk memimpin pertandingan di berbagai kompetisi.
"Jika kita tidak bisa menjamin keselamatan wasit, bagaimana kita menunjuk wasit? Kemudian, jika wasit selalu di bawah tekanan, bagaimana kita berharap mereka memberikan keputusan yang tepat atau sesuai harapan? Artinya kita harus melindungi wasit kita," tegasnya.
Salah satu insiden terbaru terjadi dalam pertandingan Super League antara Malut United melawan PSM Makassar pada Sabtu (7/3/2026).
Dalam laga tersebut, wasit Thoriq Alkatiri menjadi sasaran kekerasan setelah menganulir gol David da Silva karena dianggap terjadi pelanggaran sebelum gol tercipta.
Usai peluit panjang dibunyikan, Thoriq bersama dua asisten wasit mencoba meninggalkan lapangan menuju lorong stadion namun dihadang sejumlah ofisial serta suporter Malut United yang memprotes keras keputusan tersebut.
Situasi semakin memanas ketika salah satu oknum suporter memukul Thoriq menggunakan sehelai kain saat kerumunan mengerubunginya.
Wasit berusia 37 tahun itu sempat terhuyung akibat pukulan tersebut sebelum akhirnya steward yang mengawal membantu menstabilkan tubuhnya agar bisa segera keluar dari area stadion.
Ogawa menyayangkan keras kejadian tersebut karena Komite Wasit PSSI selama ini terus berupaya meningkatkan kualitas perwasitan di kompetisi nasional.
Berdasarkan data evaluasi yang dipaparkannya, tingkat akurasi keputusan wasit di Super League dan Championship sebenarnya menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
Meski demikian, Komite Wasit dan Departemen Wasit PSSI tetap melakukan evaluasi berkelanjutan guna memperbaiki berbagai aspek yang masih perlu ditingkatkan dalam kinerja para pengadil lapangan.
Ketua Departemen Wasit PSSI Pratap Singh juga menilai peningkatan kualitas wasit di Indonesia harus dimulai dari penguatan kondisi fisik.
"Wasit yang baik adalah dia yang terus berlari mengikuti setiap momen di pertandingan," ujar Singh.
Menurutnya, keterlambatan posisi wasit dalam melihat sebuah insiden sering kali berujung pada keputusan yang kurang akurat.
"Jika wasit terlambat dalam melihat suatu insiden di lapangan, keputusan yang dibuat akan cenderung tidak tepat," katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi fisik wasit idealnya harus setara dengan kebugaran para pemain profesional agar mampu mengikuti dinamika pertandingan secara optimal.
Singh menekankan bahwa dengan kebugaran yang baik, wasit dapat berada di posisi yang tepat sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih akurat.
Sementara itu, Ogawa menegaskan pihaknya tetap terbuka terhadap kritik publik dan akan terus melakukan pembenahan terhadap kualitas perwasitan di Indonesia melalui program pembinaan berkelanjutan.
Ia mengakui bahwa meskipun banyak keputusan wasit sebenarnya sudah tepat berdasarkan data evaluasi, keputusan tersebut tidak selalu dapat memuaskan semua pihak yang terlibat dalam pertandingan.
Sebagai bagian dari upaya modernisasi sistem perwasitan, PSSI melalui Komite Wasit dan Departemen Wasit juga mengembangkan platform digital bernama REFER.
Sistem tersebut dirancang untuk mengintegrasikan proses evaluasi, administrasi penugasan, serta program edukasi wasit guna memperkuat transparansi dan profesionalisme dalam manajemen perwasitan.
Dengan sistem digital tersebut, PSSI berharap standar akuntabilitas dan kualitas penunjukan wasit di lapangan dapat terus meningkat seiring perkembangan sepakbola nasional.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]