Partai Livre juga mengingatkan bahwa pada tahap awal pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2030, Portugal mengajukan proposal bersama Spanyol dan Ukraina.
Namun, perubahan situasi geopolitik membuat Ukraina tidak lagi menjadi bagian dari pencalonan tersebut, sehingga posisinya kemudian digantikan oleh Maroko.
Baca Juga:
Pagi Mengejutkan di Lombok Barat, Bupati dan 18 Orang Diamankan KPK Usai Nobar Piala Dunia
Menurut Pinto, perkembangan kondisi internasional saat ini membuat keputusan tersebut patut ditinjau kembali.
Ia berpendapat bahwa pertimbangan yang digunakan ketika Maroko masuk sebagai tuan rumah bersama sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan keadaan terkini.
Di sisi lain, sejumlah pengamat sepak bola internasional menilai kemungkinan FIFA mencabut status Maroko sebagai tuan rumah hampir mustahil terjadi.
Baca Juga:
Daftar Juara Piala Dunia Sepanjang Sejarah, Hanya Delapan Negara yang Pernah Mengangkat Trofi
Alasannya, waktu menuju penyelenggaraan turnamen semakin dekat, sementara pembangunan stadion, fasilitas latihan, infrastruktur transportasi, hingga berbagai proyek pendukung lainnya di Maroko telah memasuki tahap pelaksanaan.
Laporan media Prancis juga menyebut pembangunan venue pertandingan beserta fasilitas penunjang masih terus berlangsung sesuai rencana.
Apabila terjadi perubahan tuan rumah pada tahap ini, dampaknya diperkirakan dapat mengganggu jadwal persiapan sekaligus meningkatkan kompleksitas penyelenggaraan turnamen.