WAHANANEWS.CO, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir yang mewakili Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Kongres Biasa PSSI Tahun 2026 yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Kongres tersebut menjadi momentum penting bagi PSSI untuk mengevaluasi program kerja sekaligus menyusun arah pengembangan sepak bola nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga:
Pemerintah Pastikan Stok Beras Terjaga, Siap Hadapi Ancaman El Nino
Dalam kesempatan itu, Erick membacakan amanat Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan optimisme pemerintah terhadap masa depan sepak bola Indonesia.
Presiden menilai Indonesia sebagai bangsa besar memiliki potensi, kemampuan, dan sumber daya yang layak untuk bersaing di level dunia, termasuk mewujudkan impian tampil di ajang Piala Dunia 2030.
"Saya memandang Indonesia layak bisa tampil di Piala Dunia 2030. Bukan hal yang mudah, tapi kita harus berupaya semaksimal mungkin. Pemerintah akan terus memberikan dukungan penuh terhadap kerja keras PSSI dan Tim Nasional Indonesia. Kita sebagai bangsa besar harus mampu berprestasi melalui kerja keras, disiplin, dan persatuan," kata Menpora Erick.
Baca Juga:
Kemenkes: Indonesia Masih Hadapi Beban Dengue Tertinggi di Asia Tenggara
Selain menyoroti target prestasi internasional, Presiden melalui Menpora juga menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara mengenai kemenangan dan kompetisi di atas lapangan.
Lebih dari itu, olahraga paling populer di dunia tersebut dinilai memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus memperkuat jati diri bangsa.
"Di lapangan hijau, kita belajar bahwa tidak ada kemenangan tanpa disiplin, tidak ada prestasi tanpa pengorbanan, dan tidak ada kejayaan tanpa kerja sama. Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya menjadi fondasi bagi kemajuan sebuah bangsa. Karena itu, membangun sepak bola sejatinya adalah membangun karakter bangsa. Membangun generasi muda yang tangguh, berintegritas, menghormati aturan, menghargai kerja sama, dan tidak pernah menyerah menghadapi tantangan. Sepak bola juga mengajarkan bahwa kepentingan tim selalu berada di atas kepentingan pribadi. Semangat inilah yang harus terus kita rawat sebagai bangsa Indonesia," tambahnya.
Dalam amanat tersebut, Presiden juga mengungkapkan rasa bangga terhadap besarnya antusiasme masyarakat Indonesia ketika memberikan dukungan kepada Tim Nasional Indonesia.
Menurutnya, sepak bola telah menjadi kekuatan yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang.
"Setiap kali Tim Nasional Indonesia bertanding, kita melihat merah putih mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada lagi perbedaan suku, agama, daerah, maupun latar belakang; yang ada hanyalah satu identitas: Indonesia. Jutaan rakyat menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh kebanggaan. Mereka berdiri, berdoa, dan berharap Garuda membawa nama bangsa semakin tinggi. Di situlah kita melihat bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Sepak bola adalah kekuatan yang mempersatukan bangsa, sekaligus memperkuat rasa cinta pada tanah air," ujar Menpora Erick.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa pembangunan sepak bola nasional merupakan bagian dari upaya menjaga kehormatan bangsa di mata dunia.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi pesepak bola berkualitas sekaligus meninggalkan warisan prestasi bagi generasi mendatang.
"Saudara-saudara, pemerintahan yang saya pimpin memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung kemajuan sepak bola nasional. Saya telah meminta Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI menyusun blueprint Tim Nasional Indonesia menuju Piala Dunia 2030 sebagai arah pembangunan sepak bola Indonesia secara berkelanjutan," bacanya.
"Pemerintah akan terus hadir melalui pendanaan, pembangunan infrastruktur, penguatan pembinaan usia dini, peningkatan kualitas sumber daya manusia olahraga, serta berbagai kebijakan yang mendukung kemajuan sepak bola nasional," tambahnya.
Erick juga menegaskan bahwa target besar membawa Indonesia tampil di Piala Dunia tidak dapat diwujudkan hanya oleh pemerintah maupun PSSI semata.
Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari klub, akademi, pelatih, pemain, suporter, pemerintah daerah, dunia usaha, media, hingga masyarakat luas agar ekosistem sepak bola nasional berkembang secara profesional dan berkelanjutan.
"Ini adalah kerja besar bangsa Indonesia. Klub, akademi, pelatih, pemain, suporter, pemerintah daerah, dunia usaha, media, dan seluruh masyarakat harus berjalan dalam satu semangat yang sama. Semangat untuk membangun sepak bola Indonesia yang profesional, berintegritas, berprestasi, dan membanggakan bangsa. Saya ingin setiap anak Indonesia berani bermimpi mengenakan lambang Garuda di dadanya. Tetapi lebih dari itu, saya ingin negara memastikan bahwa setiap anak yang memiliki mimpi tersebut memperoleh kesempatan untuk menggapainya," tegasnya.
Menutup amanat Presiden, Erick menyampaikan bahwa visi pembangunan sepak bola nasional bukan hanya berorientasi pada pencapaian tampil di Piala Dunia 2030.
Lebih dari itu, pemerintah ingin menjadikan sepak bola sebagai instrumen untuk memperkuat persatuan nasional, meningkatkan daya saing bangsa, serta mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.
"Saya mengucapkan selamat berkongres kepada seluruh peserta kongres. Laksanakan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, mengedepankan persatuan, profesionalisme, dan kepentingan sepak bola Indonesia di atas kepentingan yang lain. Mari kita bekerja sama, bergandengan tangan, dan menjaga semangat gotong royong agar cita-cita Indonesia tampil di Piala Dunia dapat kita wujudkan," pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]