WAHANANEWS.CO, Jakarta - Atlet kickboxing nasional, Viona Amalia Adinda Putri, akhirnya angkat bicara terkait dugaan kekerasan seksual yang ia alami.
Keputusan untuk membuka kasus ini ke publik menjadi langkah berani yang diambilnya, dengan harapan peristiwa serupa tidak kembali terjadi di lingkungan olahraga, khususnya bagi atlet perempuan.
Baca Juga:
Komisi X DPR RI Apresiasi Sinergi Kemenpora dan Kemendikdasmen Perkuat Olahraga di Sekolah
Langkah tersebut bukan sesuatu yang mudah bagi Viona. Ia mengaku sempat diliputi rasa malu, takut, serta kebimbangan untuk menyampaikan apa yang dialaminya.
Pada tahap awal, Viona memilih menempuh jalur internal dengan melaporkan kejadian tersebut kepada federasi terkait.
Namun, upaya tersebut dinilai belum memberikan rasa aman maupun perlindungan yang diharapkannya sebagai korban.
Baca Juga:
Menpora Erick Thohir Hadiri Sidang Kabinet Paripurna Bahas Kesiapan Lebaran 2026
“Saya sudah buat pengaduan bersurat ke PP KBI, lalu saya juga terus melakukan follow-up lewat WhatsApp dan telepon sampai akhirnya dibentuk tim kode etik,” ujar Viona.
Meski demikian, proses penanganan internal tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Viona merasa belum mendapatkan kejelasan maupun perlindungan yang semestinya, sehingga akhirnya memutuskan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum.
Ia pun melaporkan dugaan tindak kekerasan tersebut kepada pihak Kepolisian sebagai bentuk upaya mencari keadilan. Sebelum itu, ia juga telah menyampaikan laporan kepada KONI di tingkat daerah.
Peristiwa yang dilaporkan Viona disebut terjadi saat dirinya tengah menjalani masa latihan intensif sebagai atlet.
Dalam kondisi fokus mempersiapkan diri untuk meningkatkan performa dan prestasi, ia justru mengaku mengalami perlakuan yang tidak pantas dari terduga pelaku, yang membuatnya merasa dirugikan secara fisik maupun mental.
Viona kembali menegaskan bahwa keputusan untuk berbicara ke publik bukanlah hal yang mudah.
Ia sempat memendam kejadian tersebut karena rasa malu dan ketidakberanian untuk mengungkapnya secara terbuka.
Oleh karena itu, langkah pertama yang diambilnya adalah melaporkan kasus tersebut melalui mekanisme internal organisasi.
“Jujur awalnya saya malu dan tidak punya keberanian. Makanya saya hanya lapor secara internal (federasi) saja secara prosedur,” katanya.
Dalam proses pelaporan ke pihak Kepolisian, Viona mengungkapkan bahwa ia menjalani seluruh tahapan seorang diri tanpa didampingi kuasa hukum.
Meski demikian, ia tetap berkomitmen untuk memperjuangkan keadilan dan menjaga harga dirinya sebagai atlet dan individu.
Lebih jauh, Viona berharap pengalaman yang ia alami dapat menjadi pelajaran penting bagi atlet lainnya, khususnya perempuan, agar lebih berani menjaga diri serta tidak ragu untuk melaporkan tindakan yang merugikan.
“Saya minta tolong kepada atlet perempuan untuk jaga diri masing-masing. Jangan ragu untuk melapor. Mungkin kejadian seperti ini banyak, tapi jarang yang tidak mau bicara,” kata Viona.
Ia juga menegaskan bahwa pencapaian prestasi di dunia olahraga tidak seharusnya diraih dengan mengorbankan harga diri maupun martabat pribadi.
Baginya, integritas dan kehormatan diri tetap harus menjadi prioritas utama bagi setiap atlet.
“Jangan pernah menukar prestasi dengan harga diri dan martabat kalian,” pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]