WAHANANEWS.CO, Jakarta - Iran mengancam tidak menghadiri undian Piala Dunia 2026 di Washington DC karena persoalan visa yang belum sepenuhnya disetujui.
Federasi Sepak Bola Iran menilai pembatasan yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat menghambat kehadiran seluruh anggota delegasi resmi yang semestinya mengikuti acara penting tersebut.
Baca Juga:
Comeback Spektakuler! Norwegia Lolos Otomatis ke Piala Dunia Usai Taklukkan Italia
Menurut laporan Tehran Times, otoritas AS sejauh ini hanya menerbitkan empat visa bagi rombongan Iran.
Jumlah itu dinilai jauh dari cukup karena tidak mencakup beberapa pejabat kunci, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang seharusnya hadir langsung dalam acara pengundian.
Taj mengungkapkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menyampaikan keluhan federasi terkait hambatan administratif tersebut.
Baca Juga:
Menang atas Honduras, Garuda Asia Tutup Petualangan di Grup H dengan Penuh Perjuangan
Ia menyebut diskusi berlangsung intens mengingat situasi ini dapat berpengaruh terhadap keikutsertaan Iran sebagai peserta resmi.
“Kami masih menilai berbagai opsi berdasarkan waktu dan situasi. Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Iran dan otoritas terkait,” ujar Taj dalam wawancara dengan televisi Iran.
Komite eksekutif federasi juga telah mengambil posisi tegas.
Dalam pernyataannya, federasi menegaskan bahwa mereka tidak akan menghadiri undian apabila seluruh anggota delegasi tidak memperoleh visa sesuai kebutuhan.
Sikap ini diambil sebagai bentuk protes sekaligus penegasan bahwa kehadiran utuh delegasi adalah syarat mutlak.
Undian Piala Dunia 2026 dijadwalkan digelar pada Jumat (5/12/2025) pukul 17.00 waktu setempat di Washington DC, Amerika Serikat.
Iran sendiri telah memastikan tempat di putaran final untuk ketujuh kalinya, bahkan mencatatkan empat keikutsertaan berturut-turut dalam edisi terkini.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan visa yang ketat untuk warga Iran dengan alasan keamanan nasional dan pertimbangan politik.
AS merupakan salah satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.
Situasi ini semakin memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, pada Juni lalu menandatangani aturan yang membatasi masuknya warga dari 12 negara.
Kebijakan tersebut diklaim sebagai langkah mengelola ancaman keamanan berdasarkan evaluasi pemerintah.
Iran termasuk negara yang terdampak, meski sebenarnya aturan itu memberikan pengecualian bagi atlet dan pelatih yang mengikuti ajang olahraga internasional.
Ketentuan serupa juga direncanakan berlaku bagi peserta Olimpiade Los Angeles 2028.
Taj menyatakan bahwa federasi melihat kebijakan ini sarat muatan politik.
“Menurut kami, situasinya sudah dipolitisasi. Kami memberi tahu Presiden FIFA bahwa mereka bersikap politis dan kondisi ini sepenuhnya dipolitisasi,” ujar Taj.
Ia berharap FIFA mengambil peran lebih aktif dalam menyikapi masalah tersebut.
Menurutnya, keputusan tegas dari FIFA diperlukan untuk menjaga integritas serta memastikan penyelenggaraan acara internasional berlangsung tanpa campur tangan politik.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]