Oleh ANAS SYAHRUL ALIMI
Baca Juga:
Perkuat IP Musik Indonesia, Menekraf Audiensi dengan Organisasi HAKI Dunia
MEMBACA kabar baik dunia musik ihwal reuni grup musik legendaris ABBA di situs web The Guardian pada awal September, saya tersenyum.
Momen reuni itu bersamaan dengan rilisnya album baru bertitel Voyage.
Baca Juga:
Benarkan Menonton Konser Musik Dapat Tingkatkan Kebahagiaan Kolektif? Ini Penjelasan Studi
Bayangkan, peristiwa ini terjadi empat puluh tahun setelah album The Visitors keluar pada 1981.
Bahkan, di Olympic Park, London, pada Mei 2022, jadwal panggung mereka sudah tercatat.
ABBA adalah sebuah kenangan bagi saya yang sebelum pandemi saya menyaksikan terakhir kali di Soho, London, dalam balutan pertunjukan broadway.
Dan, selalu full seat.
Artinya, ABBA yang digawangi Benny Andersson, Agnetha Fältskog, Anni-Frid Lyngstad, dan Björn Ulvaeus setelah melewati pergantian tiga generasi pendengar, tetapi tidak juga padam, tidak juga meredup.
Bayangkan, Olympic Park berkapasitas 3.000-an penonton yang disulap menjadi ABBA Arena, menjadi saksi bagaimana magnet legenda bekerja.
Hal ini mengonfirmasi kemahabenaran Aktuil ketika menulis pada April 1978 bahwa ABBA bukan grup kuartet pop semenjana.
Mereka legenda emas yang dimiliki Swedia.
Saya nukilkan paragraf pertama Aktuil edisi 243, halaman 56, tersebut: "Jangan kaget kalau ada orang Swedia mengatakan bahwa ekspor terbesar kedua Swedia setelah produksi mobil Volvo tiada lain adalah A.B.B.A. Itu bukan omong kosong, bung!"
Volvo yang disebut Aktuil itu adalah mobil legenda Swedia yang pada Part 1 Season 5 di film seri yang paling dinantikan penonton dunia, La Casa de Papel, disebut.
Ya, di film seri yang season 5-nya rilis bersamaan dengan kabar reunian ABBA itu, merek mobil Volvo disebut si Profesor sebagai "sulap kita".
Sebagaimana Volvo, ABBA adalah ciptaan ajaib Swedia untuk dunia.
Musik lewat ABBA adalah diplomasi budaya Swedia untuk dunia, sebagaimana K-Pop oleh Korea.
The Guardian di artikel Abba reunite for Voyage, first new album in 40 years dengan penuh keyakinan masih menisbatkan ABBA sebagai hitmakers.
Seakan, jarak 40 waktu tahun dari akhir tahun 1970-an terlipat.
Empat tahun pertama mereka bermusik saja sudah mendulang hampir Rp 7 miliar dari penjualan 60-an juta piringan hitam di planet manusia ini.
Untuk merayakan kejayaan itu, ABBA merilis film ABBA The Movie di Australia.
Bersamaan dengan film itu, hadir pula album The Album.
Saya tidak sedang meromantisasi ABBA sejadi-jadinya.
Ini hanya usaha menyambut reuni mereka dengan mengeluarkan karya baru.
ABBA ingin mengatakan bahwa menjadi hitmaker, menjadi legenda, menjadi bintang gemintang di panggung musik, bukanlah dengan gimik, bukanlah dengan gosip, melainkan dengan karya.
Lihatlah ABBA, mereka kembali ke publik, kembali menyapa para fan awal mereka yang saat ini sudah jadi kakek dan nenek dengan tetap berkarya.
Menjadi tua bagi ABBA tampaknya bukanlah kutukan jika reuni adalah proklamasi dari produktivitas berkarya.
Mereka datang, tumbuh, dan menyebarkan kegembiraan bermusik dengan karya dan dengan karya pula mereka hadir kembali.
Setiap generasi, ABBA terlihat tampak segar.
Anda hanya perlu membuka Kompas edisi 18 Oktober 2009 di halaman pertama untuk merasakan bagaimana sumringah-nya Rima Melati, Enny Soekamto, Mimi Fahmi, Atik Sinuko, Kartini Basuki, Indra Sobiran, Sarita, dan Citra Darwis menghidupkan panggung konser nostalgia Dancing Queen di Istora Senayan.
Dan, konser Dancing Queen yang menghidupkan ABBA itu secara terbuka diakui bagian dari sambutan atas film sukses Mamma Mia! (2008) yang terinspirasi dari dari lagu-lagu ABBA.
Satu dekade setelah film musikal itu rilis, broadway Mama Mia di London "dipindahkan" ke Jakarta.
Dari 28 Agustus hingga 9 September tiga tahun silam, legenda teater musikal itu disaksikan secara langsung.
Bercermin pada God Bless
Sebagaimana ABBA yang mengumumkan reuninya dengan berkata lantang "kami masih ada", kita bisa ber-"Cermin" pada "Semut-Semut Hitam" yang "Panggung Sandiwara"-nya tetap menolak untuk redup.
Bahkan, pada pamungkas Agustus 2021, roker-roker gaek ini masih bersemangat merayakan kelahiran mereka nyaris setengah abad di peradaban pandemi lewat konser virtual.
Reuni legendaris God Bless yang tak terlupa terjadi pada 1997.
Sebagaimana ABBA, reuni God Bless dengan kembalinya Ian Antono di posisi lead gitar ditandai dengan rilis album Apa Kabar?.
Judul album itu seperti sapaan kerinduan kepada fan bahwa musik seperti bambu dan seruling --meminjam metafora klasik penyair sufi Jalaluddin Rumi. Bambu adalah fan; dari mana musik tumbuh subur karena apresiasi.
Sementara, seruling adalah dendang yang ditiupkan para musisi.
Album Apa kabar? dalam tur bertajuk "Tour Kembali '97" di Mandalakrida Stadium, Yogyakarta, itu adalah kerinduan seruling kepada bambu yang seperti lama terpisah oleh soal "Bla Bla Bla" dalam "Roda Kehidupan".
Reuni God Bless itu seperti menggariskan narasi besar bahwa perbedaan itu wajar.
Yang tidak wajar adalah ketika kita tidak pernah bisa menyelesaikannya.
Dan, salah satu cara menyelesaikannya adalah menempatkan semuanya pada tempatnya.
Perbedaan pada hal kecil, pada hal-hal yang bersifat teknis, jangan sampai menggerus pilar-pilar besar yang digariskan pada awal grup terbentuk.
Hal-hal teknis mesti diselesaikan oleh manajemen, sementara hal-hal besar mesti diselesaikan dengan berpikir besar.
Basis God Bless, Donny Fatah, pernah bilang di majalah anak muda Hai, edisi 50, 16 Desember 1997, halaman 87, "Band ini harus memperbaiki manajemen kalo mau tetap eksis."
Ucapan Donny itu menjadi benar karena sampai detik ini kita masih bisa menyaksikan God Bless manggung.
Pembaca, Godbless dan ABBA adalah cerminan bagaimana merawat sebuah grup musik dengan komunikasi, dengan misi, dan cita-cita bermusik berlevel tinggi.
Bermusik dengan bahagia adalah level tertinggi, sementara yang paling rendah sekadar memburu uang, sekadar kesenangan tubuh semata.
Sebab, kita tahu juga, cita level terbawah ini yang jika tidak bisa dikelola dengan baik bakal membanting, menghukum, dan menenggelamkan sebuah grup dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, selama-lamanya.
Bentuk bermusik sebagai kebahagiaan adalah berkarya dengan penuh gairah kegembiraan.
Tulus menghidupkan panggung.
Menghangatkan lantai dengan peluh dansa, goyangan, seperti tercermin dalam hits ABBA yang tak pernah terlupakan sepanjang masa itu, “Dancing Queen”.
"Tujuan utama ABBA bukanlah sekadar mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, akan tetapi akan lebih merasa bahagia kalau publik bisa menyenangi segala apa yang Anda perbuat," ujar Björn Ulvaeus, sang gitaris, di puncak kejayaan mereka di awal tahun 1980-an.
Björn benar dan itulah hakikat hidup yang cuma sekali laju ini.
Reuni ABBA dan konser ulang tahun ke-48 God Bless pada akhirnya menandaskan bahwa menjadi legenda tidak selalu mudah.
Bentang waktu panjang akan terus menguji dan menggoda kelompok dalam mengelola komunikasi sehat dan memelihara api kreativitas berkarya.
Maka, menarilah dalam hidup bersama di panggung sandiwara ini. Bla bla bla. Mama mia! (Anas Syahrul Alimi, Ketua Bidang Pengembangan dan Pendidikan Asosiasi Promotor Musik Indonesia - APMI, CEO Prambanan Jazz Festival)-qnt
Artikel ini sudah tayang di Kompas.id dengan judul “ABBA dan Godbless, Menjadi Legenda Itu Berat”. Klik untuk baca: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/19/abba-dan-godbless-menjadi-legenda-itu-berat/.