"Paparan terhadap konsentrasi PM 2,5 yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada cardiovascular dan saluran pernapasan, terutama jika terpapar dalam waktu yang lama," kata Urip dalam keterangannya, Rabu (16/2/2022).
BMKG mengaku muncul kesalahpahaman informasi yang menyebut bahwa pencemaran udara menjadi penyebab penularan virus Covid-19.
Baca Juga:
Sumedang dan Majalengka Jadi Salah Satu Daerah dengan Jumlah Petir Tertinggi di Bulan Maret 2025
Dia menilai perlu ada yang meluruskan soal kondisi monitoring PM 2,5 dengan dampak dan keterkaitannya terhadap Covid-19.
"Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya keterkaitan antara sebaran konsentrasi PM2,5 dan penularan Covid-19," kata Urip.
"Sehingga pernyataan yang menyebutkan bahwa PM 2.5 sebagai penyebab Covid-19 tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat," sambungnya.
Baca Juga:
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut hingga Lebaran, PLN Siapkan Langkah Antisipatif
Dia juga menyebut ada perbedaan data antara konsentrasi harian PM 2,5 dan jumlah kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta per 1 Januari sampai 6 Februari 2020.
Data memperlihatkan peningkatan kasus positif Covid-19 tidak memiliki kaitan terhadap konsentrasi PM 2,5.
"Lonjakan konsentrasi PM 2,5 yang terjadi misalnya di tanggal 5, 16, dan 30 Januari tidak seiring dengan penambahan kasus positif Covid-19 sehingga pernyataan yang menyebutkan bahwa paparan PM 2,5 menyebabkan peningkatan kasus positif Covid-19 tidak sesuai," kata Urip.