WAHANANEWS.CO, Jakarta - Banjir kembali terjadi di Jakarta ketika hujan ekstrem mengguyur tanpa jeda di awal 2026 dan langsung melumpuhkan denyut kota, dari permukiman hingga jalur-jalur utama perekonomian, Selasa (27/1/2026).
Hujan berintensitas tinggi turun selama beberapa hari berturut-turut dan menenggelamkan kawasan padat penduduk, memutus akses jalan arteri, serta mengganggu aktivitas warga di Ibu Kota.
Baca Juga:
Cegah Risiko Kelistrikan Saat Banjir, PLN Imbau Warga Matikan MCB Jika Air Masuk Rumah
Bencana yang kerap dianggap sebagai “langganan” tahunan ini datang lebih cepat dari pola biasanya, bahkan saat kalender baru saja berganti.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa risiko banjir di Jakarta kini meningkat signifikan seiring dampak perubahan iklim global.
“Analisis historis curah hujan di Jakarta menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem terus meningkat,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., saat dihubungi, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga:
BNPB Imbau Kewaspadaan, Potensi Banjir Masih Mengintai Sejumlah Wilayah
Ia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut beriringan dengan naiknya frekuensi kejadian banjir, terutama dalam tiga dekade terakhir.
“Frekuensi banjir juga meningkat, terutama dalam tiga dekade terakhir,” lanjut Ardhasena.
BMKG mencatat bahwa banjir dengan skala seperti yang terjadi pada 2015, dalam kondisi iklim saat ini, berpeluang terjadi dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan pada era iklim masa lalu.
Proyeksi iklim ke depan juga menunjukkan potensi curah hujan ekstrem masih akan terus meningkat, khususnya pada bulan-bulan awal tahun.
Dari sisi pengamatan, BMKG mencatat curah hujan di Jakarta pada Dasarian II Januari 2026 tergolong ekstrem dan melampaui rata-rata historis sejak pencatatan dimulai.
“Data pengamatan beberapa stasiun BMKG di wilayah Jakarta dan sekitarnya menunjukkan curah hujan Dasarian II Januari 2026 tercatat di atas normal dan tergolong ekstrem,” ujar Ardhasena.
BMKG merinci curah hujan di Stasiun Kemayoran mencapai 412,5 milimeter, Stasiun Tanjung Priok 529,5 milimeter, dan Stasiun Cengkareng 347,2 milimeter.
“Pada ketiga stasiun tersebut, data Dasarian II Januari 2026 merupakan yang tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya,” kata Ardhasena.
Dalam beberapa hari terakhir, hujan harian tertinggi tercatat terjadi pada 18 dan 23 Januari 2026 dengan kategori lebat hingga ekstrem atau lebih dari 50 milimeter per hari.
Beberapa wilayah mencatat curah hujan sangat tinggi, antara lain Kota Depok sebesar 300 milimeter per hari dan Ujung Menteng, Jakarta Timur, sebesar 217 milimeter per hari.
Selain itu, Bendung Cikarang mencatat 211 milimeter per hari, Bendung Lemah Abang 209 milimeter per hari, serta Bendung Bekasi 205 milimeter per hari.
BMKG juga mengidentifikasi adanya perubahan signifikan pada pola hujan di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir dengan perubahan iklim sebagai faktor pendorong utama.
“Perubahan ini tidak selalu berarti jumlah hujan tahunan bertambah, tetapi lebih kepada bagaimana hujan itu turun,” ujar Ardhasena.
Menurut BMKG, perubahan pola tersebut ditandai oleh peningkatan intensitas hujan ekstrem seiring atmosfer yang semakin hangat dan mampu menampung lebih banyak uap air.
“Durasi hujan yang lebih singkat tetapi sangat masif, bergeser dari hujan ringan seharian menjadi hujan deras 1–2 jam,” kata Ardhasena.
BMKG juga mencatat pergeseran musim yang semakin sulit diprediksi serta distribusi hujan yang tidak merata dengan intensitas lokal yang dapat berlangsung sangat ekstrem.
“Jenis hujan berdurasi pendek namun bervolume tinggi ini sangat berbahaya bagi Jakarta, karena tanah dan saluran air tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap atau mengalirkan air,” kata Ardhasena.
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa banjir kali ini dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer yang aktif secara bersamaan.
“Aktifnya Monsoon Asia yang disertai dengan signifikannya indeks Cold Surge dan indeks Cross-Equatorial Northerly Surge mengindikasikan adanya aliran massa udara basah dari Asia,” ujar Ida saat dihubungi.
Aliran udara basah tersebut bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan dan membentuk awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau Intertropical Convergence Zone.
“Pola awan pada ITCZ ini memanjang dari Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Laut Arafura,” kata Ida.
Kondisi ini membuat hujan berintensitas tinggi turun secara merata dan berlangsung selama beberapa hari di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Terkait mitigasi, BMKG menegaskan bahwa peringatan dini cuaca ekstrem telah dikeluarkan sebelum dan selama kejadian banjir berlangsung.
“BMKG mengeluarkan peringatan dini nowcasting untuk prakiraan cuaca jangka sangat pendek satu hingga tiga jam ke depan,” ujar Ida.
Peringatan tersebut disampaikan kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk grup WhatsApp, situs resmi BMKG, dan layanan SMS Blast.
“Saat ini layanan peringatan dini cuaca ekstrem telah tersedia untuk wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Sulawesi Selatan,” kata Ida.
Dari sisi kajian ilmiah, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, menilai pola banjir Jakarta telah mengalami pergeseran mendasar.
“Jika kita belajar dari banjir tahun 2002, 2007, dan 2013, dominasinya adalah banjir fluvial akibat luapan sungai,” ujar Yus.
Namun, sejak peristiwa 1 Januari 2020, banjir Jakarta lebih banyak dipicu oleh hujan ekstrem lokal yang turun langsung di wilayah kota.
“Fenomena ini relatif baru dan sulit diantisipasi,” kata Yus.
Menurut dia, langkah paling mendesak untuk menekan risiko banjir, khususnya di Jakarta Barat, adalah pengelolaan wilayah berbasis sistem polder yang lebih kecil dan terintegrasi.
“Dalam RUTR 2030 dan Perda Nomor 1 Tahun 2012, Jakarta Utara direncanakan dibagi menjadi 66 sistem polder dan rencana ini perlu segera diwujudkan,” ujar Yus.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan living with water karena sebagian wilayah Jakarta kini berada di bawah permukaan laut.
“Kita tidak bisa terus-menerus hanya menjauhkan air, tetapi harus belajar hidup berdampingan dengan air,” tutur Yus.
Sementara itu, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, M. Aziz Muslim, menilai banjir Jakarta merupakan persoalan struktural dan kultural yang tak pernah ditangani secara konsisten.
“Sejak zaman kolonial, banjir sudah menjadi bagian dari kehidupan Jakarta,” ujar Aziz.
Ia menyebut faktor geografis, alih fungsi lahan, minimnya ruang terbuka hijau, hingga lemahnya integrasi tata ruang sebagai penyebab utama banjir yang terus berulang.
“Masalah banjir tidak bisa diselesaikan hanya saat musim hujan, tetapi membutuhkan konsistensi kebijakan jangka panjang,” kata Aziz.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]