WAHANANEWS.CO, Jakarta - Banyak pengguna mobil listrik terkejut ketika daya baterai justru terkuras lebih cepat saat melaju di jalan tol, mematahkan anggapan bahwa kecepatan konstan selalu identik dengan efisiensi tinggi.
Fenomena ini kerap memicu perdebatan di kalangan pengguna pemula yang mengira karakter mobil listrik sama seperti kendaraan bermesin pembakaran internal dalam hal konsumsi energi.
Baca Juga:
OTT Bengkulu, Plt. Bupati Hendri Jadi Saksi Kunci Dugaan Suap Proyek
Banyak pemilik kendaraan bertenaga baterai terkejut saat mendapati persentase daya merosot jauh lebih cepat dibandingkan saat berkendara di kemacetan kota yang padat.
Secara teknis, motor listrik memiliki karakteristik yang berbeda dari mesin bensin, terutama dalam pengelolaan energi pada berbagai kondisi kecepatan.
Mobil konvensional biasanya mencapai efisiensi optimal pada kecepatan stabil di gigi tertinggi, sedangkan mobil listrik justru menghadapi tantangan besar akibat hukum fisika serta penggunaan transmisi tunggal.
Baca Juga:
KPK Dalami Dugaan Suap Proyek Bupati Rejang Lebong, Fokus THR Warga
Melaju dengan kecepatan konstan seharusnya memberikan efisiensi yang lebih baik, sebagaimana karakter mesin pembakaran internal pada umumnya.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi borosnya konsumsi energi mobil listrik di jalan tol adalah hambatan aerodinamis yang meningkat drastis seiring kenaikan kecepatan kendaraan.
Ketika kecepatan kendaraan meningkat dua kali lipat, hambatan udara yang dihadapi tidak hanya naik dua kali, melainkan bisa meningkat hingga empat kali lipat sesuai hukum kuadrat kecepatan.
Pada kondisi lalu lintas perkotaan dengan kecepatan rendah, hambatan udara relatif kecil sehingga energi baterai lebih banyak digunakan untuk menggerakkan kendaraan.
Namun saat melaju di atas 100 km/jam, sebagian besar energi justru tersedot untuk melawan tekanan udara di bagian depan kendaraan.
Sebagian besar energi baterai habis hanya untuk ‘membelah’ udara yang semakin padat menekan bagian depan mobil.
Berbeda dengan mesin bensin yang dapat menyesuaikan rasio gigi untuk menekan putaran mesin, motor listrik dengan transmisi tunggal harus bekerja lebih keras pada kecepatan tinggi sehingga konsumsi listrik meningkat signifikan.
Faktor kedua yang berperan adalah hilangnya manfaat dari sistem pengereman regeneratif yang biasanya menjadi kunci efisiensi mobil listrik di dalam kota.
Saat kendaraan melambat atau berhenti, sistem ini mengubah energi kinetik menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai.
Motor listrik berubah fungsi menjadi generator yang menangkap energi kinetik dan mengubahnya kembali menjadi daya listrik untuk mengisi baterai.
Namun di jalan tol, kondisi berkendara yang stabil dan minim pengereman membuat sistem ini hampir tidak bekerja sama sekali.
Akibatnya, tidak ada suplai energi tambahan yang masuk ke baterai sehingga daya terus terkuras tanpa proses pengisian ulang selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, penggunaan transmisi satu percepatan pada mobil listrik juga menjadi faktor yang memengaruhi efisiensi di kecepatan tinggi.
Motor listrik dipaksa berputar pada RPM tinggi, yang menyebabkan peningkatan panas akibat gesekan dan hambatan internal.
Energi yang seharusnya digunakan untuk menggerakkan roda justru terbuang dalam bentuk panas yang tidak produktif.
Semakin tinggi putaran motor, semakin besar panas yang dihasilkan akibat hambatan internal dan gesekan.
Di sisi lain, sistem pendingin kendaraan juga membutuhkan daya tambahan untuk menjaga suhu baterai dan motor tetap stabil saat bekerja dalam beban tinggi.
Kondisi ini membuat konsumsi energi semakin meningkat karena baterai tidak hanya digunakan untuk menggerakkan kendaraan, tetapi juga untuk mendukung sistem manajemen termal.
Oleh karena itu, menjaga kecepatan di kisaran 80 hingga 90 km/jam menjadi strategi paling efisien bagi pengguna mobil listrik saat melintasi jalan tol agar jarak tempuh tetap optimal hingga mencapai stasiun pengisian berikutnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]