WAHANANEWS.CO, Jakarta - Berakhirnya insentif pajak kendaraan elektrifikasi impor sejak 31 Desember 2025 sudah terasa di level konsumen. Sejumlah diler mobil listrik melakukan penyesuaian harga pada awal 2026.
"Ada kenaikan harga karena kan insentif pemerintahnya disudahin ya untuk beberapa mobil listrik," kata seorang tenaga penjual Chery di Jakarta, Senin (5/1/2026) mengutip CBC Indonesia.
Baca Juga:
36 Warga Desa Muara Sibuntuon Terima BLT Dana Desa, Salah Satunya Korban Luka-luka Bencana Ekologis Tapanuli
Perubahan kebijakan tersebut langsung berdampak ke banderol kendaraan di diler. Menurutnya, konsumen yang datang belakangan mulai mempertanyakan alasan kenaikan harga dibandingkan tahun lalu.
"Untuk J6 ini ada mengalami kenaikan, ada penyesuaian harga untuk setiap harga-harga mobilnya, Kenaikan J6 di Rp20 juta karena harga sebelumnya di Rp505 juta, sekarang di Rp 525 juta," katanya.
Ia menjelaskan, penyesuaian harga ini tak hanya terjadi pada satu model saja. Kenaikan tersebut dinilai masih relatif rendah jika dibandingkan dengan kekhawatiran pasar sebelumnya.
Baca Juga:
Pasca bencana Hidrometeorologis, Pemdes Anggoli Salurkan BLT Dana Desa Untuk 39 KPM
"Hampir semua mobil Chery kena kenaikan karena ini harga ditentukan oleh ATPM kita atau Chery dari pusat finalnya. Jadi di semua Chery dipastikan sama harganya," ujar tenaga penjual.
Dengan skema penetapan harga terpusat, konsumen di berbagai daerah tidak akan menemukan perbedaan harga antar diler. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa penyesuaian harga bukan keputusan diler, melainkan kebijakan nasional dari prinsipal.
"Tiggo Cross hybrid CSH 1.500 cc sekarang harga Rp329,8 juta. Ada kenaikan Rp30 juta dari harga tahun lalu, jadi kemungkinan insentifnya udah dicabut pemerintah," ujarnya.