WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman gempa besar kembali mengemuka setelah peta terbaru mengungkap Indonesia dikepung 14 zona megathrust aktif, menempatkan negeri ini dalam risiko tinggi bencana yang bisa terjadi kapan saja, Kamis (16/4/2025).
Indonesia sejak lama dikenal sebagai wilayah rawan gempa dan tsunami karena berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire yang membentang sepanjang 40.000 kilometer di Samudra Pasifik dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling aktif di dunia.
Baca Juga:
Ancaman Tsunami Mengintai, Aktivitas Pesisir Dihentikan Pasca Gempa Laut Maluku
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, jumlah zona megathrust yang mengelilingi Tanah Air bertambah menjadi 14 dari sebelumnya 13 pada edisi 2017, menandakan dinamika geologi yang semakin kompleks dan berisiko.
Perubahan signifikan tersebut turut disoroti oleh anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Iswandi Imran, yang menilai adanya peningkatan ancaman gempa di sejumlah wilayah.
“Antara yang sebelumnya 2017 dengan 2024, kalau kita lihat kontur yang lebih rapat pada 2024, itu mengindikasikan adanya peningkatan bahaya gempa di daerah-daerah tertentu di Indonesia,” ujar Iswandi.
Baca Juga:
BMKG Pastikan Gempa Sukabumi Akibat Subduksi, Tidak Berpotensi Tsunami
Ia menjelaskan bahwa rapatan kontur dalam peta terbaru menjadi indikator penting meningkatnya intensitas potensi gempa di berbagai titik rawan di Indonesia.
Peta 2024 juga mencatat potensi gempa sangat besar di sejumlah zona, termasuk Megathrust Jawa yang diperkirakan mampu memicu gempa hingga magnitudo 9,1, sementara wilayah Enggano serta Mentawai-Pagai berpotensi mencapai magnitudo 8,9.
Adapun 14 zona megathrust tersebut meliputi:
Aceh-Andaman (magnitudo 9,2)
Nias-Simeulue (8,7)
Batu (7,8)
Mentawai-Siberut (8,9)
Mentawai-Pagai (8,9)
Enggano (8,9)
Jawa (9,1)
Jawa bagian barat (8,9)
Jawa bagian timur (8,9)
Sumba (8,9)
Sulawesi Utara (8,5)
Palung Cotobato (8,3)
Filipina Selatan (8,2)
Filipina Tengah (8,1)
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan adanya dua zona megathrust yang berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda yang terakhir mengalami gempa besar pada 1757 serta Mentawai-Siberut pada 1797.
Kondisi seismic gap sendiri merujuk pada wilayah yang lama tidak mengalami gempa besar sehingga menyimpan akumulasi energi tektonik yang berpotensi dilepaskan sewaktu-waktu.
“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG.
BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis kajian ilmiah dan sejarah geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat.
“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No. 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]