Ia pun mengakui berjuang untuk 'menyelaraskan frekuensi' dengan bidang baru.
Pada masa awal menjadi periset, Erma sempat kebingungan karena tidak memiliki mentor atau pembimbing.
Baca Juga:
Kerjasama Pengembangan Nuklir di RI, Dirjen Rosatom Rusia Bertemu BRIN
"Ketika saya memilih bidang [iklim] itu, saya banyak membaca, banyak mempelajari lagi, karena sudah sangat lama dari lulus hingga menjadi peneliti," kata Erma lewat sambungan telepon.
"Dari penggalian itu, saya mengambil satu intisari pengetahuan bahwa dunia ini sedang menghadapi satu kejadian yang sangat fenomenal bernama perubahan iklim," lanjut warga Bandung tersebut.
Faktor lainnya yang membuatnya tersedot ke bidang ini adalah posisi Indonesia yang unik sebagai miniatur iklim dunia.
Baca Juga:
AHY Umumkan Kondisi Genting, Permukaan Pantura Jawa Turun 15-20 Cm per Tahun
Menurutnya, banyak negara berinvestasi dalam penelitian dengan menyimpan berbagai macam alat di wilayah RI.
"Orang luar negeri berdatangan ke sini, ilmuwan luar negeri ke sini untuk membawakan apapun, untuk taruh alat, untuk investasi riset," papar dia.
"Benua maritim Indonesia ini miniatur iklim dunia, jadi kalau kita bisa memecahkan cuaca dan iklim di Indonesia, maka kita sudah bisa mengetahui bagaimana bekerjanya iklim di seluruh dunia," imbuhnya.