WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gagasan tentang dunia paralel telah lama menjadi bahan cerita fiksi ilmiah. Film, novel, hingga serial televisi kerap menggambarkan adanya versi lain dari diri manusia yang hidup di alam semesta berbeda. Namun, di balik imajinasi tersebut, konsep dunia paralel ternyata juga menjadi salah satu topik serius yang dipelajari dalam fisika modern.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti observasional yang dapat memastikan keberadaan dunia paralel. Konsep tersebut masih berada pada ranah hipotesis ilmiah yang lahir dari berbagai teori fisika, terutama mekanika kuantum dan kosmologi.
Baca Juga:
KPK Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Menhut Raja Juli, Berawal dari Kasus OTT Bupati Kuansing
Dari Mekanika Kuantum hingga Multiverse
Salah satu gagasan paling terkenal adalah Many-Worlds Interpretation (Interpretasi Banyak Dunia) yang diperkenalkan fisikawan Hugh Everett III pada 1957. Dalam interpretasi ini, setiap kemungkinan hasil dari suatu peristiwa kuantum benar-benar terjadi, tetapi masing-masing berlangsung di cabang alam semesta yang berbeda.
Di sisi lain, teori inflasi kosmik juga melahirkan gagasan multiverse. Menurut teori ini, alam semesta mengalami ekspansi luar biasa cepat sesaat setelah Big Bang. Beberapa model inflasi memprediksi proses tersebut dapat terus berlangsung di wilayah lain sehingga menghasilkan "gelembung-gelembung alam semesta" yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
Baca Juga:
Sprindik Baru Terbit, Kejagung Dalami TPPU dari Temuan 74 Kg Emas Terkait Febrie Adriansyah
Kosmolog Max Tegmark bahkan mengelompokkan konsep multiverse ke dalam empat tingkatan, mulai dari wilayah alam semesta yang sangat jauh hingga kemungkinan adanya semesta dengan hukum fisika yang sama sekali berbeda. Namun, sebagian besar gagasan tersebut masih bersifat teoritis dan belum dapat diuji secara langsung.
Survei Besar: Fisikawan Sendiri Belum Sepakat
Menariknya, para fisikawan pun belum memiliki kesepakatan mengenai berbagai misteri terbesar di alam semesta, termasuk teori-teori yang berkaitan dengan multiverse.
Pada 2026, Physics Magazine bersama sejumlah peneliti merilis salah satu survei terbesar mengenai pandangan ilmuwan terhadap berbagai persoalan mendasar fisika. Lebih dari 1.600 responden berpartisipasi dalam survei tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa hampir tidak ada konsensus kuat dalam banyak isu besar fisika. Bahkan untuk teori inflasi kosmik—yang menjadi salah satu dasar munculnya konsep multiverse—dukungan hanya berada di kisaran 51 persen responden, sementara sisanya memilih alternatif lain atau menyatakan belum memiliki pendapat.
Astrofisikawan Niayesh Afshordi mengatakan:
"Scientific truth is not decided by a vote. But consensus, or its absence, tells us where the evidence feels settled and where researchers still see room for radically different ideas."
Dalam bahasa Indonesia, pernyataan tersebut berarti:
"Kebenaran ilmiah tidak ditentukan melalui pemungutan suara. Namun, adanya atau tidak adanya konsensus menunjukkan di bagian mana bukti ilmiah sudah dianggap kuat dan di bagian mana para peneliti masih melihat ruang bagi gagasan yang benar-benar berbeda."
Survei lain yang dipublikasikan jurnal Nature pada 2025 juga menunjukkan bahwa para fisikawan memiliki pandangan yang sangat beragam mengenai interpretasi mekanika kuantum, termasuk Interpretasi Banyak Dunia yang sering dikaitkan dengan konsep dunia paralel.
Mengapa Sulit Dibuktikan?
Masalah terbesar dari teori dunia paralel adalah keterbatasan pengujian.
Sains modern mengharuskan sebuah teori menghasilkan prediksi yang dapat diuji melalui eksperimen atau observasi. Hingga kini, belum ada eksperimen yang mampu menunjukkan keberadaan alam semesta paralel secara langsung.
Beberapa ilmuwan mencoba mencari kemungkinan "jejak" tabrakan antar gelembung alam semesta pada radiasi latar belakang kosmik (Cosmic Microwave Background/CMB), tetapi belum ditemukan bukti yang dapat diterima sebagai konfirmasi.
Antara Hipotesis dan Kenyataan
Sejumlah fisikawan mengingatkan agar publik tidak menganggap multiverse sebagai fakta ilmiah.
Fisikawan teoretis Sabine Hossenfelder, misalnya, menilai bahwa model matematika yang konsisten belum otomatis menggambarkan kenyataan fisik.
Ia mengatakan:
"It's possible to create mathematical models that are consistent with multiverse theory, but that doesn't necessarily tell you anything about reality."
Artinya, teori multiverse dapat saja konsisten secara matematis, tetapi hal itu belum berarti alam semesta paralel benar-benar ada.
Misteri yang Masih Terbuka
Dunia paralel tetap menjadi salah satu ide paling menarik dalam fisika modern karena muncul secara alami dari beberapa teori yang sangat serius, bukan sekadar imajinasi penulis fiksi ilmiah.
Namun, hingga saat ini belum ada bukti eksperimental yang memastikan keberadaannya. Bagi komunitas ilmiah, multiverse masih merupakan hipotesis yang layak dipelajari, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai kenyataan.
Dengan kata lain, dunia paralel masih berada di perbatasan antara sains, matematika, dan filsafat—sebuah misteri yang mungkin suatu hari nanti dapat dijelaskan, atau justru terbukti tidak pernah ada.
[Redaktur: Elsya TA]