WAHANANEWS.CO - Pluto berpeluang kembali menyandang gelar planet setelah Administrator NASA Jared Isaacman secara terbuka mendorong agar status benda langit itu dipulihkan dan dibahas ulang oleh komunitas ilmiah dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Isaacman saat menjawab pertanyaan Senator Jerry Moran dalam sidang anggaran NASA tahun fiskal 2027 di hadapan Subkomite Apropriasi DPR Amerika Serikat, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga:
Sering Pakai Warna Baju Sama? Ternyata Ini Ciri Kepribadiannya
"Saya sangat berada di kubu 'jadikan Pluto planet lagi.' Kami sedang mengerjakan sejumlah makalah tentang posisi yang ingin kami eskalasikan melalui komunitas ilmiah untuk membuka kembali diskusi ini," kata Isaacman, Kamis (30/4/2026).
Isaacman juga menegaskan keinginannya agar astronom Clyde Tombaugh kembali mendapat pengakuan layak sebagai penemu Pluto.
Tombaugh merupakan ilmuwan Amerika yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930 di Observatorium Lowell, Flagstaff, Arizona.
Baca Juga:
Lagu Indonesia Timur Tabola Bale Bersaing di Music Awards Japan 2026
Selama lebih dari 76 tahun sejak ditemukan, Pluto dikenal sebagai planet kesembilan dalam Tata Surya.
Pluto berada sekitar 8 miliar kilometer dari Bumi dan lama menjadi bagian daftar resmi planet di sistem Tata Surya.
Namun pada 24 Agustus 2006, International Astronomical Union (IAU) mengeluarkan Resolusi B5 yang mengubah definisi resmi planet.
Sejak keputusan itu berlaku, Pluto diturunkan statusnya menjadi planet kerdil dan Tata Surya hanya diakui memiliki delapan planet.
Delapan planet tersebut adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Menurut definisi IAU, sebuah benda langit harus memenuhi tiga syarat agar disebut planet, yakni mengorbit Matahari, memiliki bentuk hampir bulat karena gravitasinya sendiri, dan mampu membersihkan lingkungan orbitnya dari benda lain.
Pluto memenuhi dua syarat pertama, tetapi dinilai gagal memenuhi syarat ketiga.
Sejumlah ilmuwan planet sejak lama menilai definisi itu bermasalah dan perlu ditinjau ulang.
Keputusan IAU kala itu dipicu penemuan sejumlah objek besar lain di Tata Surya seperti Sedna, Haumea, Makemake, dan Eris yang ukurannya mendekati Pluto.
Jika semua objek tersebut dimasukkan sebagai planet, jumlah planet di Tata Surya diperkirakan bisa mencapai sekitar 20 benda langit.
IAU saat itu memilih memperkecil daftar planet, dan Pluto menjadi objek yang kehilangan statusnya.
Kini Pluto mengorbit di sabuk Kuiper, wilayah berisi benda-benda es di luar orbit Neptunus.
Meski berstatus planet kerdil, Pluto tetap menjadi salah satu objek terbesar yang mengorbit Matahari.
Hingga sekarang, hanya misi New Horizons milik NASA yang pernah mendekati Pluto saat terbang lintas pada 2015 dan menghasilkan foto pertama permukaannya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]