WAHANANEWS.CO, Jakarta - Elon Musk mengaku tersingkir dari OpenAI, perusahaan yang ia rintis sendiri. Hal tersebut ia ungkap dalam persidangan panas terkait masa depan pengembang ChatGPT.
Musk menggugat OpenAI dan para petingginya karena dinilai mengkhianati misi awal organisasi sebagai lembaga nirlaba yang bekerja untuk kepentingan umat manusia.
Baca Juga:
Penuh Kebersamaan, Peringatan May Day 2026 di Jambi Berlangsung Aman dan Kondusif
Dalam kesaksiannya di pengadilan Oakland, California, Musk menegaskan OpenAI awalnya dirancang sebagai lembaga amal, bukan mesin pencetak keuntungan. Ia menilai perubahan struktur menjadi perusahaan berorientasi profit telah merusak tujuan awal tersebut.
"Jika kita membiarkan perampokan terhadap lembaga amal, maka seluruh fondasi donasi amal di Amerika akan hancur. Itulah kekhawatiran saya," kata Musk di hari pertama persidangan, dikutip dari Reuters, Rabu (29/4/2026).
Musk juga menegaskan dirinya merupakan orang di balik pembentukan OpenAI. Ia mengklaim menyusun ide, nama, merekrut tim inti, hingga menyediakan pendanaan awal.
Baca Juga:
Dunia Siap-Siap! OpenAI Prediksi Lompatan AI Lebih Cepat dari Dugaan
"Saya yang mencetuskan ide, nama, merekrut orang-orang kunci, mengajari mereka semua yang saya tahu, menyediakan seluruh pendanaan awal. Ini secara khusus dimaksudkan sebagai lembaga amal yang tidak menguntungkan individu mana pun. Saya bisa saja memulainya sebagai perusahaan profit dan saya sengaja memilih tidak melakukannya," ujarnya.
Namun, pihak OpenAI membantah klaim tersebut. Pengacara OpenAI, William Savitt, menyebut justru Musk sejak awal mendorong OpenAI menjadi perusahaan profit dan ingin memegang kendali penuh.
"Yang ia pedulikan adalah Elon Musk berada di puncak. Kami berada di sini karena Tuan Musk tidak mendapatkan keinginannya," kata Savitt.