Ranika menjelaskan bahwa sistem ini berpotensi meningkatkan kecepatan angin lapisan rendah atau low level jet hingga lebih dari 25 knot.
Dampak angin kencang tersebut diperkirakan terjadi di perairan selatan Banten, Selat Sunda, serta perairan barat Lampung.
Baca Juga:
OJK Perketat Aturan Financial Influencer demi Lindungi Konsumen dari Informasi Menyesatkan
Selain itu, bibit siklon ini juga memicu terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin atau konvergensi yang memanjang dari pesisir barat Lampung hingga wilayah selatan Jawa Barat.
Kondisi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah daerah.
BMKG menetapkan enam provinsi dalam status siaga terhadap potensi hujan lebat sampai sangat lebat.
Baca Juga:
DJP Ingatkan Marketplace, Seller di Bawah Rp 500 Juta Setahun Tak Boleh Dipajaki
Enam provinsi tersebut meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
Masyarakat di wilayah tersebut diminta mewaspadai potensi banjir, tanah longsor, serta dampak lanjutan dari cuaca ekstrem.
Dampak dinamika atmosfer akibat Bibit Siklon Tropis 93S juga dirasakan di sejumlah kota besar di Indonesia.