WAHANANEWS.CO - Setelan AC 16 derajat Celsius yang terasa cepat mendinginkan ruangan ternyata bisa diam-diam menguras listrik lebih besar, dan penjelasan ahli menegaskan kebiasaan ini membuat kompresor bekerja lebih keras serta mempercepat kenaikan tagihan bulanan.
Unggahan video di media sosial yang membahas dampak pengaturan suhu air conditioner (AC) ke 16 derajat Celsius terhadap konsumsi listrik ramai diperbincangkan warganet, salah satunya diunggah akun TikTok @feli****** pada Senin (10/11/2025) yang mengingatkan pengguna agar tidak sembarangan menurunkan suhu pendingin ruangan.
Baca Juga:
Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Tanggapi Kekhawatiran Dana Sukarela AC SMAN 3
“Jangan set suhu AC di 16 derajat,” ujar pengunggah dalam video tersebut.
Ia turut membagikan pengalamannya setelah mendapati tagihan listrik meningkat cukup tajam akibat pengaturan suhu AC yang kurang tepat.
"Tagihanku naik sampai 300 ribu bulan ini gara-gara salah setting AC. Banyak yang kira, makin kecil angkanya, makin cepat dingin padahal salah banget," tambahnya.
Baca Juga:
Kepulan Asap di RSUD dr H Jusuf SK Berasal Dari Kipas Angin yang Terbakar
Menurutnya, anggapan bahwa semakin rendah angka suhu maka ruangan akan lebih cepat dingin tidak sepenuhnya benar karena pengaturan suhu terlalu rendah justru berpotensi membuat konsumsi listrik semakin boros.
Hingga Rabu (28/1/2026) siang, video tersebut telah ditonton lebih dari 350 ribu kali dan memicu lebih dari 160 komentar dari warganet yang turut membagikan pengalaman serupa terkait penggunaan AC.
Menanggapi hal itu, Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, membenarkan bahwa pengaturan suhu AC yang terlalu rendah dapat memicu pemborosan energi karena kompresor akan bekerja lebih keras dan lebih lama demi menyesuaikan suhu ruangan.
“Betul, saat setting suhu di 16 derajat, artinya kita memaksa kompresor pada unit AC bekerja lebih keras untuk mengondisikan ruang, sehingga konsumsi energinya meningkat,” jelas Toto kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Ia menegaskan bahwa fungsi utama AC bukan untuk membuat ruangan menjadi sedingin mungkin, melainkan menciptakan kenyamanan termal bagi penghuninya dengan rentang suhu ideal berada di kisaran 22 hingga 26 derajat Celsius.
"Artinya, jika setting remote di bawah 24 derajat, maka akan mengakibatkan konsumsi energi yang lebih besar bila dibanding setting di 24 derajat Celcius," lanjutnya.
Toto juga menyarankan agar pengguna menurunkan suhu secara bertahap, dimulai dari suhu yang lebih tinggi lalu perlahan disesuaikan hingga mencapai tingkat kenyamanan tanpa membebani penggunaan listrik.
Selain faktor suhu, kebiasaan sering mematikan dan menyalakan AC juga dinilai berkontribusi pada pemborosan energi karena setiap kali perangkat dinyalakan ulang, sistem membutuhkan daya tambahan untuk kembali mendinginkan ruangan dari suhu awal.
Ia mencontohkan, saat suhu ruangan belum stabil, kompresor akan bekerja maksimal hingga target suhu tercapai, sementara pada AC konvensional kompresor akan berhenti setelah suhu sesuai dan kembali aktif saat suhu meningkat.
Namun, jika AC terlalu sering dimatikan dan dinyalakan, kompresor harus terus mengulang proses pendinginan dari awal sehingga konsumsi energi menjadi lebih besar.
Pada AC inverter, kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi efisiensi kerja kompresor meskipun teknologi ini dirancang untuk mengatur daya secara lebih hemat.
“Kalau AC dihidup-matikan, maka sistem akan memulai kerja dari awal lagi. Ini membutuhkan energi lebih besar untuk mengondisikan udara sesuai suhu yang diinginkan,” pungkas Toto.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]