WAHANANEWS.CO, Jakarta - Peran masyarakat sipil dalam kerja-kerja kemanusiaan kembali disorot oleh Jusuf Kalla, yang menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama agar bantuan bisa bergerak cepat dan tepat sasaran.
Dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Selasa (08/04/2026), Kalla menjelaskan bahwa tantangan kemanusiaan saat ini datang dari konflik antarmanusia dan konflik dengan alam yang sama-sama berdampak luas.
Baca Juga:
Sidang Perdana Korupsi PGN Digelar, Hendi Prio Santoso Hadapi Dakwaan
“Konflik terjadi di berbagai belahan dunia seperti Ukraina, Timur Tengah, hingga di dalam negeri seperti Papua. Selain itu, bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar,” ujarnya.
Ia menguraikan bahwa konflik kemanusiaan kerap dipicu oleh ideologi, perebutan wilayah, kepentingan politik, hingga perebutan sumber daya alam yang memperparah situasi masyarakat sipil.
Menurut Kalla, penanganan masalah kemanusiaan tidak cukup hanya berfokus pada dampaknya seperti pengungsi, melainkan harus menyentuh akar persoalan konflik tersebut.
Baca Juga:
Bareskrim Ungkap Kronologi Penangkapan Andre Fernando di Penang
“Kalau konfliknya selesai, masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Itu lebih cepat dan lebih efektif dibanding hanya mengurus dampaknya,” katanya.
Pengalaman menangani konflik di awal 2000-an seperti di Poso, Ambon, dan Aceh disebutnya sebagai bukti bahwa penyelesaian konflik dapat mengurangi dampak kemanusiaan secara signifikan, termasuk saat jumlah pengungsi mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Ia menambahkan bahwa pendekatan logika, pemahaman akar masalah, serta keberanian menjadi kunci dalam meredam konflik sosial, termasuk yang berlatar belakang agama.
“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan membunuh orang lain tanpa alasan. Pendekatan ini yang kami gunakan dalam menyelesaikan konflik di Poso dan Ambon,” ucapnya.
Dalam konteks bencana alam, Kalla menekankan pentingnya semangat gotong royong sebagai kekuatan utama dalam aksi kemanusiaan di Indonesia.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat luas terbukti efektif dalam berbagai peristiwa besar seperti tsunami Aceh dan pandemi COVID-19 yang membutuhkan respons cepat dan masif.
“Contohnya dana PMI berasal dari masyarakat. Mereka percaya bahwa bantuan yang diberikan akan disalurkan dengan baik,” ujarnya.
Sebagai Ketua Palang Merah Indonesia, ia mengungkapkan bahwa PMI saat ini didukung sekitar 1,5 juta relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga tenaga medis.
Ia juga mengajak perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih jauh melalui riset yang berdampak langsung pada upaya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.
“Di sini kita berharap kampus bisa membuat penelitian yang langsung berdampak terhadap upaya menghindari bencana alam, termasuk bagaimana cara agar alam jangan rusak,” kata dia.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]