WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia tancap gas membuka kran investasi sektor kesehatan dengan menggandeng raksasa industri asal Amerika Serikat demi menjawab krisis kekurangan dokter dan memperkuat produksi alat medis nasional.
Dalam agenda Gala Iftar Dinner Business Summit di Washington, D.C., Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026) malam waktu setempat, Presiden Prabowo Subianto mengajak General Electric (GE) meningkatkan investasi produksi peralatan medis di Indonesia sebagai peluang kerja sama strategis.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Apel Siaga Kamtibmas Ramadhan 1447 H, Pastikan Keamanan dan Stabilitas Harga Bahan Pokok
"Saya rasa juga terdapat peluang bagi Amerika Serikat. Saya rasa General Electric juga membangun peralatan medis di Indonesia dan kami berharap mereka akan meningkatkan produksi mereka," kata Prabowo.
Di hadapan para pengusaha AS, Prabowo memaparkan bahwa Indonesia masih kekurangan sekitar 140 ribu dokter, sementara jumlah lulusan dokter setiap tahun baru menyentuh angka sekitar 10 ribu orang.
"Itu berarti butuh 14 tahun untuk menutup celah tersebut, kecuali ada upaya baru yang nyata," ujarnya.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Tegaskan Penguatan Kemitraan Ekonomi Indonesia–AS
Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga medis, pemerintah membangun sepuluh universitas baru berbasis STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) serta kedokteran sebagai langkah strategis memperluas kapasitas pendidikan dokter nasional.
"Itulah alasan saya menciptakan 10 universitas baru ini yang akan berbasis pada STEM (sains, teknologi, teknik, matematika) dan kedokteran," kata Prabowo.
Sebelumnya, dalam lawatan kenegaraan ke Inggris, Presiden telah menyusun kerangka kerja sama pendidikan melalui pembangunan sepuluh kampus baru bidang kedokteran dan STEM, termasuk program pertukaran dosen dari Inggris untuk memperkuat kualitas akademik.
Dengan bertambahnya jumlah kampus dan calon dokter, pemerintah melihat terbukanya ruang kolaborasi industri kesehatan, termasuk penjajakan produksi dan pengembangan alat medis bersama GE di dalam negeri.
"Kami akan mendukungnya," tegas Prabowo.
Ia juga memastikan hambatan birokrasi yang sebelumnya dikeluhkan investor telah ditangani secara cepat demi menciptakan iklim usaha yang lebih responsif dan kompetitif.
"Sempat ada kendala birokrasi, namun kami menyelesaikannya dengan sangat cepat. Saya juga menerima masukan beberapa jam lalu dari beberapa korporasi yang mengeluhkan lambatnya solusi atas masalah mereka," kata Prabowo.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah tenaga medis, tetapi juga membangun ekosistem industri kesehatan yang terintegrasi antara pendidikan, investasi, dan produksi dalam negeri.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]