Dan karena negara biasanya memesan jutaan uang kertas untuk diangkut dalam kontainer, mereka harus membayar biaya pengiriman yang besar. Dalam kasus Gambia, para pejabat mengatakan biaya pengiriman mencapai tagihan sebesar £70.000 (Rp1,3 miliar).
Permintaan yang tinggi
Baca Juga:
Survei 2025 Ungkap Gen Z Paling Toleran dan Unggul dalam Literasi Al-Qur’an
Meski terdengar aneh, para analis mengatakan bahwa negara-negara Afrika yang mencetak banyak mata uang mereka di luar negeri bukanlah hal yang aneh.
Banyak negara di dunia melakukannya.
Misalnya, Finlandia dan Denmark melakukan alih daya untuk menghasilkan uang, seperti yang dilakukan ratusan bank sentral di seluruh dunia. Hanya segelintir negara, seperti AS dan India, yang memproduksi mata uang mereka sendiri.
Baca Juga:
Wamen PANRB dan Wamenhub Tinjau Posko Pusat Angkutan Nataru 2026, Pastikan Layanan Publik Tetap Optimal
Mma Amara Ekeruche dari Pusat Penelitian Ekonomi Afrika mengatakan kepada DW bahwa ketika mata uang suatu negara tidak dalam permintaan tinggi — dan tidak digunakan secara global seperti dolar AS atau pound Inggris — tidak masuk akal secara finansial untuk mencetaknya di dalam negeri karena tingginya biaya yang terlibat.
Mesin cetak uang biasanya menghasilkan jutaan uang kertas sekaligus.
Negara-negara dengan populasi yang lebih kecil, seperti Gambia akan memiliki lebih banyak uang daripada yang mereka butuhkan jika mereka mencetak sendiri.